Khataman dan Ijazah kitab Kanzu ar-Raghibin Syarh Minhaj ath-Thalibin
li an-Nawawi karya Imam Jalal ad-Din al-Mahalli untuk santri Sanah
Rabi’ah, malam Jumat 28 Rajab 1437 H/ 5 Mei 2016 M di Masjid STAI Imam
Syafi’i Cianjur.
Alhamdulillah Ala Niamihi, kitab yg terdiri dari 4 juz ini telah
dibacakan dan diterangkan secara perhuruf dan perkata selama 4 tahun,
mulai tahun 2012 hingga 2016, setiap minggunya 5 pelajaran dalam 5 hari
(ahad sampai kamis), setiap pelajaran menghabiskan waktu 1 jam.
Adapun masyayikh yang mengajarkan adalah:
1. Tahun pertama/ juz pertama oleh Syaikh Syadi Arbasy ad-Dimasyqi
2. Tahun kedua/ juz 2 oleh Syaikh Muhammad Darwisy ad-Dimasyqi
3. Tahun ketiga/ juz 3 oleh Syaikh Mahir al-Munajjid ad-Dimasyqi
4. Tahun keempat/ juz terakhir oleh Syaikh Syadi Arbasy ad-Dimasyqi.
Betapa gembiranya saya serta teman2, ketika mendengar silsilah sanad
kitab yang diberikan kepada santri Sanah Rabi’ah ini melalui jalur ulama
Nusantara yang telah disebutkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani dalam
kitabnya yg berjudul al-‘Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid.
Berikut adalah Sanad untuk kitab Minhaj ath-Thalibin karya Imam an-Nawawi:
Santri Sanah Rabiah di Jami’ah Imam Syafi’i dari
1. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Syadi Arbasy ad-Dimasyqi, dari
2. Syaikh al-Allamah al-Faqih al-Ushuli Hasan Hitou, hafizhahumallah, syaikh Hasan dari
3. Syaikh Musnid al-‘Ashr YASIN AL-FADANI, dari
4. Syaikh al-Kiyahi BAQIR BIN NUR AL-JOGJAWI, Syaikh ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARI, dan al-Faqih syaikh SHADAQAH BIN HAJI ABU BAKAT BIN RASYAD AL-MEDANI AS-SUMATHRI, ketiganya dari
5. Syaikh al-Kiyahi MAHFUZH BIN ABDULLAH AT-TARMASI, dari
6. Syaikh ZAINUDDIN BIN BADAWI AS-SUMBAWI, dari
7. Syaikh ABDUL KARIM AS-SAMBASI, dari
8. Syaikh al-Muammar Kyai NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI, dari
9. Syaikh ARSYAD BIN ABDUS SHOMAD AL-BANJARI, dari
10. Syaikh ABDUS SHOMAD BIN ABDURRAHMAN AL-FALIMBANI,
***tahwil sanad***
Syaikh Yasin al-Fadani juga meriwayatkan dari,
4. Habib al-Muammar ALI BIN ALI AL HABSYI AL MADANI, dan Kyai ABDUL MUHITH BIN YA’QUB SIDOARJO, keduanya dari
5. Al-Faqih kyai UMAR BIN SHOLEH BIN UMAR AS-SAMARANI, dari
6. Ayahnya, yaitu Syaikh SHOLEH BIN UMAR AS-SAMARANI, dari
7. Syaikh ABDUS SHOMAD BIN ABDUR RAMHAN AL-FALIMBANI, dari
8. Al-Muammar AQIB BIN HASANUDDIN BIN JA’FAR AL-FALIMBANI, dari
9. Pamannya, yaitu Syaikh THAYYIB BIN JA’FAR AL-FALIMBANI, dari
10. Ayahnya, yaitu Syaikh JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN BADRUDDIN AL-FALIMBANI, dari
11. Imam Syamsuddin Muhammad bin Ala’ al-Babili, dari
12. Imam Nurudiin Ali bin Yahya az-Ziyadi, dari
13. Imam Jamaluddin Sayyid Yusuf bin Abdullah al-Armayuni, dari
14. Imam Jalaluddin Abul Fadl Abdurrahman as-Suyuthi, dari
15. Syaikhul Islam, Alamuddin Sholih bin Umar al-Bulqini, dari
16. Ayahnya, yaitu Imam Sirajuddin Umar bin Ruslan al-Bulqini, dari
17. Imam Abul Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman az-Mizzi, dari
18. Sang Muallif, Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi
Radhiyallahu Anhum Ajmain
Dan dibawah ini adalah sanad dengan jalur ulama Nusantara untuk kitab
Syarh Imam al-Mahalli atas kitab Minhaj ath-Thalibin yang bernama Kanzu
ar-Raghibin:
Santri Sanah Rabiah STAI Imam Syafi’i:
Santi Sanah Rabiah STAI IMAM SYAFII CIANJUR dari
1. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Syadi Arbasy ad-Dimasyqi, dari
2. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Muhammad Hasan hitou, dari
3. Musnid al-Ashr Syaikh YASIN AL-FADANI, dari
4. Syaikh ALI BIN UBAIDULLAH AL-BANJARI, dari
5. Syaikh ZAINUDDIN BIN BADAWI AS-SUMBAWI, dari
6. Syaikh al-Muammar NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI, dari
7. Syaikh ARSYAD BIN ABDUS SHOMAD AL-BANJARI AL-MARTAFURI, dari
8. Sayyid Imam Murtadla az-Zabidi (penulis kitab Ithaf Sadat al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumiddin), dari
9. Sayyid Ahmad bin Muhammad Syarif Maqbul al-Ahdal, dari
10. Sayyid Ahmad bin Idria al-Hasani, dari
11. Sayyid Muhammad bin Abu Bakar asy-Syilli al-Makki, dari
12. Imam Syamsuddin Muhammad bin Ala’ al-Babili, dari
13. Imam Ahmad bin Abu Bakar al-Khazraji al-Anshari yang terkenal dg
sebutan Qu’ud al-Imam, dari Imam Yusuf bin Abdullah al-Husaini
al-Armayuni, dari
14. Imam Jalaluddin as-Suyuthi, dari
15. Sang Muallif, asy-Syarih al-Muhaqqiq al-Mudaqqiq Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mahalli
Radliyallahu anhum ajmain
Lahum al-Fatihah
Sumber : kertas ijazah yang ditulis Syaikh Syadi Arbasy dan kitab
al-Iqdu al-Farid karya syaikh Yasin al-Fadani (hal.70-71 dan 77)
Masih kita jumpai dari mereka ada yang memperolok-olok Habib, padahal
mereka mengaku-aku ittiba’ li Rasulihi. Sedangkan Rasulullah bersabda
yang artinya, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).
Apalagi para Habib dan para Sayyid adalah keturunan cucu Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam. Mereka mendapatkan didikan agama langsung
ari orangtua-orangtua mereka terdahulu tersambung kepada lisannya Imam
Sayyidina Ali ra yang mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah
shallallahu alahi wasallam
Sebagian mereka sangat membenci kaum Syiah khususnya yang membenci
Khulafaur Rasyidin selain Imam Sayyidina Ali ra namun mereka tetap
berakhlak tidak baik kalau memperolok-olok atau bahkan membenci
keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Seharusnya
bukanlah kebencian yang dituruti namun nasehatlah yang diperlukan bagi
kaum Syiah yang masih “mencari kebenaran”. Para Habib Hadramaut tetap
memberikan nasehat kepada kaum Syiah yang masih “mencari kebenaran”
sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://pondokhabib.wordpress.com/2010/05/07/surat-nasehat-dari-para-habaib-hadramaut-untuk-tokoh-tokoh-syiah-dan-pengikutnya/
Keturunan cucu Rasulullah shallallahu alahi wasallam sangat berjasa
menyiarkan Islam di negeri kita. Diantara keturunan cucu Rasulullah
shallallahu alahi wasallam adalah para Walisongo, selain mereka
berjumlah sembilan orang, mereka adalah para Wali Allah generasi
ke-sembilan. Para Walisongo adalah keturunan ke 23 dan 24 kalau
dihitung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus kepada putri
Rasulullah Fathimah Radhiallahu Anha,
Habib Munzir Al Musawa menyampaikan bahwa mereka mengingkari Wali
Songo karena mereka cemburu saja karena keberhasilan Walisongo, padahal
para Walisongo itulah yang menyebarkan islam ke pulau jawa. Link: http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&catid=7&id=18869
Kita telah dapat melihat bermunculan ahli bid’ah sebenarnya. Ahli
bid’ah adalah mereka yang membuat perkara baru atau mengada-ada yang
bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau
sebaliknya, tidak diharamkan (halal) menjadi haram (dikerjakan berdosa)
atau sebaliknya dan tidak dilarang menjadi dilarang (dikerjakan
berdosa) atau sebaliknya.
Rasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa)
Rasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=120&action=display&option=com_bukhari
Begitu juga kita dapat ambil pelajaran dari apa yang terjadi dengan kaum Nasrani
‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah
–pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam–
setelah dia mendengar ayat yang artinya, “Mereka menjadikan orang–orang
alimnya, dan rahib–rahib mereka sebagai tuhan–tuhan selain Allah, dan
mereka (juga mempertuhankan) al Masih putera Maryam. Padahal, mereka
hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka
persekutukan.“ (QS at Taubah [9] : 31) , kemudian ia berkata: “Ya
Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan
pendeta itu“. Maka jawab Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betul!
Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram
terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram,
kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada
mereka.” (Riwayat Tarmizi)
Bid’ah dholalah adalah perbuatan syirik karena penyembahan kepada selain Allah.
Bid’ah dholalah adalah perbuatan yang tidak ada ampunannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
إِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ
“Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi
kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
Sekarang telah mulai tampak ahli bid’ah bermunculan. Mereka membuat
perkara baru (bid’ah) pada perkara yang merupakan hak Allah ta’ala
menetapkannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya
Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka
jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa
batas/larangan (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu langgar dia; dan
Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu
pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda
kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan
dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
“mendekatkan dari surga” = kewajiban (ditinggalkan berdosa)
“menjauhkan dari neraka” = larangan , pengharaman (dikerjakan berdosa)
Jika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa),
perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman
(dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan
oleh Allah Azza wa Jalla
Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu
(yang kau pelajari) dari ahli bid’ah; juga dari orang yang tidak engkau
ketahui catatan pendidikannya (sanad ilmu); serta dari orang yang
mendustakan perkataan manusia, meskipun dia tidak mendustakan hadits
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam“
Selain bermunculannya ahli bid’ah, kita juga sudah menyaksikan apa yang disampaikan oleh Imam Malik ra di atas, “mendustakan perkataan manusia , meskipun dia tidak mendustakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”
dengan adanya fitnah terhadap perkataan ulama. Syeikh Al Azhar yang
masih mempertahankan Sanad Ilmu, DR. Ahmad At Thayyib memperingatkan
adanya upaya negatif terhadap buku para ulama dengan adanya permainan
terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada
yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan
menghilangkan tujuannya. Link: https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ikhtilaf-dalam-persatuan/
Mereka mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun pada
kenyataannya mereka tidak lebih mengikuti pemahaman ulama-ulama seperti
ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah, ulama Muhammad bin
Abdul Wahhab atau bahkan mengikuti pemahaman ulama Al Albani yang
dikenal mereka sebagai ahli hadits pada zaman ini. Padahal kenyataannya
beliau tidak diketahui sanad atau isnad yang merupakan hal yang terpenting dalam bidang ilmu hadits (Mustolah Hadits). Pendapat ulama-ulama lain terhadap mereka termuat dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kaum muslim bila telah terjadi fitnah antara lain
Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman,
dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak
terdapat keberkahan’
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu
alaihi wasallam bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah
ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke
negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’
Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena
kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan
dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’
Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan
mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam :
mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman,
barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min,
yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan
Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.
Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya,
dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)
Dari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.
Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di
depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu
wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’.
Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin
Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan
kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.
Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang artinyai : “Dan
serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya
mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan
menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai
jalan yang jauh. Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah
menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru
untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas
seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang sebagaimana firman Allah
ta’ala dalam surah Al Nashr ayat 2 yang artinya ‘Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai‘.
Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, ‘Sesungguhnya
yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman,
mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu’minin dengan
jumlah tujuh ratus orang’
Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata,
‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat
bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Siapakah ahlu
Yaman itu ? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : Suatu kaum
yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman,
kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman’
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits
dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu
mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah
sebaik-baiknya manusia di muka bumi’
Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah
bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’.
Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’
al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu
Usbah , berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Sebaik-baiknya
lelaki, lelaki ahlu Yaman‘.
Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi
Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasehati agar
beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan
siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan
Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana.
Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencitaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku’
Jadi akibat mereka terkena ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum
Zionis Yahudi maka timbul lagi kaum yang mereka tidak sadari secara
tidak langsung telah membenci Khulafaur Rasyidin khususnya Imam
Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sebagian bukti mereka korban ghazwul
fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi telah diuraikan dalam
tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/26/bukti-korban/ dan https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/24/korban-perang-pemahaman/
Sesuai nasehat Rasulullah bila telah terjadi fitnah maka kiblat ilmu
beralih ke hadramaut (Yaman), ilmu yang bersumber dari ulama-ulama
bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alahi
wasallam.
Sanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam
dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur’an dan Sunah Nabawiyah terjaga dari
distorsi kaum kafir dan munafik. Karena sanad inilah warisan Nabi tak
dapat diputar balikkan.
Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama,
kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja
yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ; “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan” Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Jadi, metode isnad tidak terbatas pada bidang ilmu hadits.
Karena tradisi pewarisan atau transfer keilmuwan Islam dengan metode
sanad telah berkembang ke berbagai bidang keilmuwan. Dan yang paling
kentara adalah sanad talaqqi dalam aqidah dan mazhab fikih yang
sampai saat ini dilestarikan oleh ulama dan universitas Al-Azhar
Asy-Syarif. Hal inilah yang mengapa Al-Azhar menjadi sumber ilmu
keislaman selama berabad-abad. Karena manhaj yang di gunakan adalah
manhaj shahih talaqqi yang memiliki sanad yang jelas dan sangat
sistematis. Sehingga sarjana yang menetas dari Al-azhar adalah tidak
hanya ahli akademis semata tapi juga alim.
Selain sanad, ciri dalam manhaj pengajaran talaqqi adalah ijazah.
Ijazah ada yang secara tertulis dan ada yang hanya dengan lisan.
Memberikan ijazah sangat penting. Menimbang agar tak terjadinya penipuan
dan dusta dalam penyandaran seseorang. Apalagi untuk zaman sekarang
yang penuh kedustaan, ijazah secara tertulis menjadi suatu keharusan
Tradisi ijazah ini pernah dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi
wasallam ketika memberikan ijazah (baca: secara lisan) kepada beberapa
Sahabat ra. dalam keahlian tertentu. Seperti keahlian sahabat di bidang
Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda artinya: “Ambillah
Al-Qur’an dari empat orang. Yaitu, dari Abdillah ibn Mas’ud r.a.,
Saidina Salim r.a., Saidina Mu’az r.a. dan Saidina Ubai bin Ka’ab r.a.“. (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karenanya setelah kita melihat terjadinya perselisihan karena
perbedaan pemahaman maka kita diperintahkan untuk mengembalikannya
kepada Al Qur’an dan As Sunnah serta agar kita selamat kembalikan
berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid
Mutlak) alias Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab
sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah
Askum Ustaz. Kami pernah mendengar satu golongan yang agak kasar cara
mereka. Yang saya maksudkan adalah Hizbu Tahrir. Saya pernah mendengar
mereka ini bersama golongan Wahabi untuk mendakyah ditengah masyarakat
kita di Malaysia. Kami dari persatuan pelajar universiti-universiti
Malaysia (namanya dirahsiakan) amat risau dengan gerakan Hizbut Tahrir
ini. Minta ustaz jelaskan mengenai Hizbu Tahrir ini ustaz.
Jawaban:
Wa’alaikumsalam.
Em..sebenarnya saya kurang berminat menyatakan perihal
gerakan-gerakan ini lebih-lebih lagi gerakan atau ajaran yang baru
tetapi demi beramal dengan sabda Nabi maka ia perlu dijelaskan.
Berkenaan Hizbu Tahrir you all boleh baca dibawah ini:
Selain kesesatan al-Wahhabiyyah al-Mujassimah yang sedang berleluasa
di tanah air kita Malaysia dan seluruh dunia, ada satu lagi pertubuhan
sesat yang amat perlu diperhatikan juga iaitu Hizbut Tahrir. Hizbut
Tahrir adalah satu pertubuhan yang diasaskan oleh Taqiyyuddin al-Nabhani
al-Falistini (meninggal pada tahun 1400 H) di Lubnan. Penyelewengan dan
kesesatan pertubuhan ini ditentang oleh para ulama Ahlis-Sunnah
wal-Jama^ah sedunia. Antara penyelewengan dan kesesatan Hizbut Tahrir
ialah:
1. Menghukum Orang Yang Meninggal Dunia Tanpa Bay^ah Seorang Khalifah Sebagai Mati Jahiliyyah
Antara kesesatan Hizbut Tahrir dan bukti terkeluarnya kelompok ini dari
majoriti umat Islam ialah pernyataan mereka bahawa orang yang meninggal
dunia tanpa membay^ah seorang khalifah, maka matinya adalah mati
jahiliyyah[1]. Ini bermakna – menurut mereka – kematian orang tersebut
seperti matinya orang-orang yang menyembah berhala. Bahkan, ini bermakna
– menurut mereka – bahawa seluruh orang Islam dalam tempoh seratus
tahun terakhir ini mati dalam keadaan mati jahiliyyah. Ini berlaku sejak
saat dunia Islam kehilangan khalifah. Apatah lagi, khilafah Islamiyyah
tertinggi yang mengurus keperluan seluruh umat Islam telah terputus
sejak sekian lama. Umat Islam yang pada masa sekarang tidak mengangkat
khalifah, sesungguhnya mereka mempunyai uzur (alasan yang diterima).
Yang dimaksud dengan umat Islam di sini adalah rakyat, kerana terbukti
rakyat tidak memiliki kemampuan untuk mendirikan khilafah dan mengangkat
seorang khalifah. Lantas berdosakah mereka jika memang tidak mampu!?.
Bukankah Allah taala berfirman:
لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
Maknanya: “Allah ta’ala tidak membebankan terhadap satu jiwa, kecuali apa yang ia sanggup melakukannya”. (Surah al Baqarah: 286)
2. Berakidah Dengan Aqidah Muktazilah Atau Qadariyyah
Lebih sesat lagi, Hizbut Tahrir menyatakan bahawa seorang hamba adalah
pencipta perlakuan ikhtiyari (perbuatan yang dilakukan atas dasar
kemahuannya). Menurut mereka bahawa perkara yang diciptakan oleh Allah
hanya perlakuan manusia yang bersifat idtirari (perbuatan yang di luar
inisiatifnya seperti degupan jantung, takut, menggigil kerana kedinginan
dan lain-lain)[2]. Dengan pernyataannya ini, Hizbut Tahrir telah
menyalahi firman Allah taala:
اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ
Maknanya: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu”. (Surah al-Zumar: 62)
Segala sesuatu (shay’) dalam ayat ini mencakupi diri makhluk dan
segala perbuatannya. Selain itu, mereka juga menyalahi firman Allah:
Ertinya tidak ada Pencipta atau yang mengadakan sesuatu dari tidak
ada menjadi ada kecuali Allah. Seterusnya, mereka juga menyalahi firman
Allah:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمحْيَاىَ وَمَمَاتِى للهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ. لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ
الْمُسْلِمِينَ
Maknanya: “Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya solatku dan nusukku
(sembelihan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti
al-Hady dan korban ‘Id al-Adha), hidupku dan matiku adalah milik Tuhan
semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya” (Surah Al-An^am: 162-163)
Ayat di atas jelas menyatakan bahawa solat dan amalan ibadat korban
yang merupakan perbuatan ikhtiyari, serta kehidupan dan kematian yang
bukan perbuatan ikhtiyari kesemuanya adalah ciptaan Allah, tidak ada
yang menyekutui-Nya dalam hal ini. Sesungguhnya hanyalah Allah yang
menciptakan kesemuanya itu; yang mengadakannya daripada tidak ada kepada
ada.
Ayat-ayat tersebut semuanya menunjukkan bahwa segala apa yang ada di
dunia ini adalah ciptaan Allah. Segala benda (zat-zat) dan
sifat-sifatnya seperti bergerak, diam, warna, fikiran, rasa sakit, rasa
nikmat, mengerti, lemah dan lain-lain, semuanya tidak lain adalah
ciptaan Allah. Manusia hanyalah berbuat (yaf^al –Kasb-), tidak
menciptakan (la yakhluq) perbuatannya sendiri. Ini adalah akidah yang
telah menjadi ijmak (kesepakatan) para sahabat dan majoriti umat Islam
hingga kini.
Al-Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ^anhu berkata dalam kitabnya al-Wasiyyah:
وَالْعَبْدُ مَعَ أَعْمَالِهِ وَإِقْرَارِهِ وَمَعْرِفَتِهِ مَخْلُوقٌ,
فَإِذَا الْفَاعِلُ مَخْلُوقٌ فَأَفْعَالُهُ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ
مَخْلُوقَةً
Maknanya: “Dan si hamba itu bersama-sama segala perbuatannya,
pengakuannya dan pengetahuannya adalah makhluk ciptaan Allah. Oleh itu,
apabila si pelaku itu suatu makhluk maka perlakuannya lebih utama
sebagai makhluk ciptaan Allah”.
Inilah yang diyakini oleh majoriti umat Islam, baik mereka para
ulamak Salaf (mereka yang hidup pada 300 tahun pertama hijriyyah; iaitu
zaman sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’it tabi’in) mahupun ulama Khalaf
(pasca zaman salaf hingga kini). Pendapat yang menyalahi akidah ini
bererti telah menyalahi al-Quran dan hadis Nabi. Dalam sebuah hadis
riwayat Ibn Hibban diriwayatkan bahawa Rasulullah sallaLlahu ^alayhi
wa-sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ صَانِعُ كُلِّ صَانِعٍ وَصُنْعَتِهِ
Maknanya: “Sesungguhnya Allah pencipta setiap pembuat dan perbuatannya”.
Hadis di atas jelas menyatakan bahawa manusia sama sekali tidak menciptakan perbuatannya.
3. Beberapa Pegangan Sesat Yang Lain
Selain itu, ada lagi beberapa pegangan mereka yang menyeleweng dari pegangan Ahlis Sunnah wal Jama^ah. Antaranya:
1) Mereka mengatakan bahawa sifat ^ismah atau maksum para nabi dan rasul
itu hanya berlaku selepas mereka menjadi nabi atau rasul, manakala
sebelum kenabian atau kerasulan maka sesuatu dosa yang boleh terjadi ke
atas manusia biasa lain boleh berlaku ke atas mereka kerana sifat maksum
itu adalah kerana kenabian dan kerasulan[3].
2) Mereka juga mengatakan bahawa perjalanan dengan tujuan zina tidak haram kerana yang haram hanya perbuatan zina[4].
3) Mereka juga membolehkan cumbuan lelaki dengan perempuan ajnabiyyah[5].
4) Mereka juga membolehkan seseorang lelaki berjabat tangan dengan perempuan ajnabiyyah[6].
5) Mereka juga mendakwa bahawa semua manusia boleh berijtihad
terutamanya selepas mereka dapat membaca kitab-kitab yang berbahasa Arab
dan yang berkaitan syariat Islam[7].
Oleh itu, jauhilah Hizbut Tahrir kerana mereka mengancam akidah umat
Islam! Sebarkan maklumat ini kepada orang lain! AWAS! Mereka sedang
mencari pengaruh di kalangan masyarakat Islam di Malaysia terutama
golongan siswazah dan profesional yang tidak kuat asas akidah Islam dan
ilmu fardu ain bagi memudahkan lagi pergerakan mereka.
[Risalah ini telah siap disusun oleh Abu Nur al-Dununiyy al-Ash^ariyy
pada 28 Jumadal-Awwal 1427 H dan diedarkan di sebahagian negeri Johor
bersama dengan doa: “Ya Allah! Jadikanlah risalah kecil ini sebagai
RIBUT PETIR yang melanda HIZBUT TAHRIR!”.]
________________________________
[1] Sila rujuk penulisan-penulisan mereka seperti berikut: (1)
Al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 2, bahagian 3, hlm. 13, 15 dan 29.
(2) Al-Khilafah, hlm. 3, 4 dan 9. (3) Al-Dawlah al-Islamiyyah, hlm. 179.
(4) Mudhakkirah Hizb al-Tahrir ila al-Muslimin fi Lubnan, hlm. 4.
[2] Sila rujuk penulisan-penulisan mereka seperti berikut: (1)
Al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 1, bahagian 1, hlm. 71, 72 dan 74.
(2) Nizam al-Hukm fi al-Islam, hlm. 22.
[3] Sila rujuk penulisan pengasas dan ketua Hizbut Tahrir iaitu
Taqiyyuddin al-Nabhani al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 1, bahagian
1, hlm. 120.
[4] Perkara ini telah ditulis dan disebarkan dalam kertas edaran mereka
di Tripoli, Syam pada tahun 1969 dan masih disebut sehingga sekarang
oleh penduduk Tripoli dan mendapat tentangan daripada kebanyakan
penduduk.
[5] Sila rujuk edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 24
Rabi^ul-Awwal 1390, dan edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 21
Jamadil-Awwal 1400/ 7 April 1980.
[6] Sila rujuk edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 8 Muharram
1390, dan buku mereka al-Khilafah, hlm. 22 – 23, serta buku ketua mereka
al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 2, bahagian 3, hlm. 22 – 23, dan
juzuk 3, hlm. 107 – 108.
[7] Sila rujuk kitab mereka al-Tafkir, hlm. 149.
HIZBUT TAHRIR (HT) Merupakan satu angkatan @ ajaran baru yang
bertopengkan politik islam tetapi pada hakikatnya TIDAK menerima pakai
hukum islam antaranya isu bersalaman, bercium laki perempuan ajnabiyah
bukan muhrim dan bukan suami isteri & yang berjalan menuju zina
merupakan tidak haram bahkan harus lagi HALAL bagi Hizbut Tahrir.
HT sering menyebarkan ajaran mereka kepada persatuan2 islam
dimalaysia termasuk JAKIM demi merialisasikan impian mereka iaitu
kesemua manusia didunia ini WAJIB ikut dan sertai HT.Dengan bertopengkan
penegakan sistem Khilafah Islamiyah HT turut bertindak kurang ajar
dengan menghukum seluruh umat islam yang bersemangat wataniyah sebagai
KAFIR halal darahnya dan juga menghukum KUFUR terhadap semua umat islam
di Malaysia dan Indonesia yang beramal dengan demokrasi.
Selainya HT tidak mengutamakan ilmu agama HT turut menerapkan nilai2
penghinaan terhadap para nabi antaranya HT menyandarkan perbuatan syirik
terhadap Nabi Ibrahim serta HT turut menghukum nabi Yusuf BERKEHENDAK
DAN BERNIAT MELAKUKAN ZINA dengan ZULAIKAH.Dan..dan..dan banyak lagi beribu-ribu kesongsangan ajaran baru Hizbut Tahrir yang tidak sempat diutarakan kesemuanya disini…
Umat islam tidak habis lagi dengan ajaran Mujassimah Moden( yang
mengatakan Allah Duduk & Membid’ah-bid’ahkan umat islam )kini umat
islam terpaksa menghadapi dengan pelbagai ajaran baru yang bertopengkan
islam atau politik islam pula.
Dibawah ini saya menyatakan beberapa kesongsangan dan Hubbut Takfir (
HT ) iaitu gemar&suka menkafirkan umat islam yang wujud dalam
ajaran Hizbut Tahrir ( HT ) merujuk kepada kitab asal atau risalah asal
puak ajaran baru Hizbut Tahrir yang dipetik dari laman web HT sendiri
dan ini bukanlah satu fitnah dan tuan2 boleh rujuk sendiri dari website
HT sendiri.
1- HIZBUT TAHRIR MENGKAFIRKAN UMAT ISLAM.
Hizbut Tahrir Semakin Kurang Ajar Terhadap Islam dan UmatnyaHizbut
Tahrir ( HT ) merupakan satu angkatan perpaduan baru yang bertopengkan
dengan nama politik islam.
Umat islam memang sedari bahawa Khalifah adalah perlu dan kerja kearah
mewujudkan khalifah islam sebenar sememangnya diusahakankan oleh umat
islam dan ulamanya dengan cara yang cukup rapi tanpa menghukum kafir
terhadap umat islam lain tanpa hak.
HT Mengharamkan Patriotisme Bahkan Mengkafirkan Sesiapa sahaja yang menubuhkannya dan menganggotainya.Dalam kitab mereka inihttp://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf
Pada mukasurat 3 jelas HT mengharamkan bahkan MENGKAFIRKAN sesiapa
sahaja yang menubuhkan, menganggotai dan menyokong serta bersemangat
Patriotisme.
Ini bererti HT telah menghukum KUFUR terhadap semua umat islam di
Malaysia dan diluar Malaysia yang mencintai negara sendiri (berbatasan
syariat), maka tiada yang muslim di dunia ini bagi HT kecuali puak
mereka sahaja.Hari kemerdekaan merupakan hari kekufuran bagi semua umat islam ( inilah tanggapan HT berdasarkan dalam kitab mereka tersebut ).
Nampak gayanya berasa lega sungguh puak HT ini bila dah kafirkan umat islam.
2- HIZBUT TAHRIR MEWAJIBKAN KEATAS UMAT ISLAM MENGIKUT DAN
MENGANGGOTAI MEREKA ( walaupun kekadang mereka menafikannya tetapi kitab
mereka membuktikannnya).
Wahai umat islam…lihatlah cara pendekatan HT ini dan saya berharap anda
jangan tertipu dengan HT yang memang kurang ajar..dahlah tidak berhukum
dengan hukum islam bila HT menghalalkan ciuman diantara lelaki dan
perempuan dan persalaman antara mereka dalam risalah edaran HT di
Tripoly.
Lihat pada perenggan pertama pada mukasurat 6http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf
Jelas! bahawa HT mewajibkan anda semua menganggotainya dan siapa yang
tidak melakukan perkara yang wajib maka dia telah melanggar perintah
‘islam’ dan akan diazab dalam api neraka Allah.
4- HIZBUT TAHRIR MENGANGGAP bahawa NABI&RASUL TIDAK MAKSUM ( TIDAK TERPILIHARA DARI KEKUFURAN ).
Mungkin yang maksum disisi HT hanya Taqiyuddin Nabhani.
Ketahuilah bahawa disisi agama islam yang dipelopori oleh Ahli Sunnah
Wal Jamaah berpegang bahawa para Nabi dan Rasul mereka adalah maksum(
terpelihari) dari kekufuran,
dosa besar & dosar kecil yang buruk pada SEBELUM kenabian dan
kerasulam mereka serta SESUDAH kenabian dan kerasulan mereka. Inilah
aqidah islam.
Malangnya HT beranggapan bahawa kemaksuman Nabi & Rasul dari
kekufuran dan dosa besar HANYALAH SELEPAS dilantik oleh Allah sebagai
nabi atau rasul.
Ini bermakna HT mengharuskan kekufuran berlaku pada Nabi dan Rasul
sebelum kenabian sedangkan Allah tidak akan mengutuskan manusia sekeji
itu ( iaitu yang melakukan kekufuran).
Laman Hizbut Tahrir membuktikan perkara tersebut
:http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Shakhsiyah1.pdf
Lihat pada m/s 137 diakhir perenggan jelas HT mengatakan bahawa para
Nabi dan Rasul tidak maksum dan harus melakukan seperti mana manusia
lain melakukan ( dari perkara kufur,dosa besar dan selainnya).nak tanya
pada HT..taqiyuddin nabhani yang menentang ikhwan muslimin tu maksum ke
tak?.
5- HIZBUT TAHRIR MENYANDARKAN SIKAP SYIRIK TERHADAP NABI IBRAHIM.
Saudara seislam sekalian…tidak cukup HT menafikan kemaksuman Anbya’ dari
kekufuran sebelum kenabian, kini HT sanggup menyandarkan sikap seakan
syirik terhadap nabi Ibrahim.Ketahuilah bahawa Nabi Ibrahim tidak pernah
bersikap seakan bulan itu tuhan!
Dan Nabi Ibrahim tidap pernah mengadap matahari seolah-olah bersetuju
dengan cara pemikiran org musyrik! Tidak dan tidak pernah!Akan tetapi HT
telah menyandarkan perkara yang jelek itu terhadap Nabi
Ibrahim…subhanallah..Ini juga bukan satu fitnah terhadap HT tapi anda
boleh rujuk pada website HT ( http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf )Pada risalah mereka SAUTUN NAHDHAH SN652406 mukasurat 2 & 3.
Tidak pernahkan HT memahami firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 67
Allah ta’ala menafikan nabi Ibrahim dari kalangan musyrikin!.
6- DALIL GANJIL HIZBUT TAHRIR MENGHALALKAN MAKAN KHINZIR DEMI UNTUK MENGELAK KEMUDARATAN.
Saya nasihatkan kepada HT agar terus mempelajari ilmu agama dari ahli
ilmu agama dan bukannya dari Taqiyuddin Nabhani! Agar anda dapat
meletakkan dalil syarak ditempatnya dan bukan pakai tibai saja!Pada
website http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf& risalah Hizbut Tahrir SAUTUN NAHDHAH SN652406 di mukasurt 3,
Apabila HT menghalalkan makan khinzir untuk mengelak kemudaratan, HT
telah mengunakan ayat yang dipesongkan terjemahannya dan tafsirannya.
Cuba lihat bahawa ayat 106 dalam surah An-Nahl cukup panjang, malangnya
HT yang tiada amanah dengan ayat Alquran telah meringkaskanya mengikut
hawa nafsu mereka.
Kerja meringkaskan ayat Al-quran (sehingga terkeluar dari maksudnya)
tidak dilakukan melainkan hanyalah kerja org jahil!Ayat tersebut
menyatakan mengenai hukum kekufuran dan org islam yang dipaksa untuk
kufur tiada kaitan dengan halal makan khinzir!
Demikian terjemahan sebenar ayat tersebut :
“Sesiapa yang kufur kepada Allah sesudah dia beriman (maka baginya
kemurkaan dan azab dari Allah), kecuali orang yang dipaksa (melakukan
atau melafazkan kufur) sedang hatinya tenang tenteram dengan iman; akan
tetapi sesiapa yang terbuka hatinya menerima kufur maka atas mereka
tertimpa kemurkaan dari Allah dan mereka pula beroleh azab yang besar”.
Qias yang digunakan oleh HT sering menyimpang kerana kejahilan mereka!
Adakah HT mahukan sistem khilafah ala meringkaskan ayat-ayat alquran dan dipotong-potong serta memutarbelit ayat-ayat Allah?!!
7- HIZBUT TAHRIR MENYATAKAN NABI YUSUF BERMAKSUD MELAKUKAN ZINA.
Tabarakallah!…apa ini?!Subhanallah…Kejahilan mentafsir Alquran
membuatkan HT menyandarkan terhadap nabi Yusuf sifat keinginan melakukan
zina terhadap zulaikha.
Saya menyeru agar HT memerangi kejahilan dan pergi belajar balik cara
tafsir Alquran sebenar kerana HT telah melakukan jutaan kesilapan dalam
Alquran. Adakah kejahilan Alquran asas Hizbut Tahrir bagi menyokong
sistem khilafah?!.
Dalam website HT http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf
pada risalah mereka SAUTUN NAHDHAH SN652406 di mukasurt 4, HT telah
menerangkan ayat Alquran dengan salah sehingga menyebabkan HT
menyandarkan terhadap nabi Yusuf sifat hendak melakukan seks dengan
wanita itu.
Tabarakallah allazi ‘assoma ambiyaahu.
8- HIZBUT TAHRIR MENGATAKAN BAHAWA AGAMA PARA NABI TERDAHULU BUKAN AGAMA ISLAM.
Dalam kitab HT berjudul Syakhsiyah Islamiah Juzuk Tiga Usul Fiqh di Mukasurat 406 & 407, http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Shakhsiyyah3.pdf
HT telah menafikan Islam sebagai agama para nabi-nabi
terdahulu.Ketahuilah bahawa seluruh para Nabi beragama Islam berdalilkan
banyak ayat dan bukti lain..antaranya firman Allah dalam surah Al-Imran
ayat 67.Firman Allah bermaksud :
“Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi dan bukanlah dia
seorang pemeluk agama Kristian, tetapi dia seorang yang tetap di atas
dasar Tauhid sebagai seorang MUSLIM (yang taat dan berserah bulat-bulat
kepada Allah) dan dia pula bukanlah dari orang-orang musyrik”.
Cuma syariat iaitu hukum-hakam para rasul sahaja yang berbeza, manakala
agama adalah sama iaitu agama Islam yang beriman dengan Allah sebagai
Tuhan yang disembah.
Demikianlah beberapa cebis penerangan mengenai bahayanya ajaran Hizbut Tahrir.
Semoga Allah memelihara umat islam dari terpengaruh dengan ajaran Hizbut Tahrir. amin.
Dr Zakir Naik, Siapa dan Bagaimana Ajarannya. Foto: cover buku “Zakir Naik, A Brief Profile” dari IRF.
Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih
dikenal dengan nama Zakir Naik lahir di India pada 18 Oktober 1965.
Disebutkan dalam berbagai literatur, ia penah kuliah kedokteran di
Mumbai, India. Para pengagumnya menyebut ia sebagai sosok “ulama”
terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Bisa dikatakan Zakir
Naik ini besar melalui Internet, seperti website dan video Youtube yang
sengaja disebarluaskan di Indonesia.
Sebutan “ulama” yang disandang Zakir
Naik tentu dipertanyakan. Karena darimana ia belajar ilmu agama Islam
pun tidak jelas. Tidak pernah disebutkan siapa gurunya, sama
seperti sosok Al Ustadz Ahmad Sukina, pemimpin Majelis Tafsir Alquran
(MTA) di Solo. Tidak akan anda temukan darimana ia belajar agama meski
dalam website resminya seperti IRF. Tidak diketahui darimana ia belajar
agama. Yang ada, klaim Zakir Naik yang menyebut dirinyya sebagai murid
Syaikh Ahmad Deedat.
Belum lagi bacaan Qurannya yang tidak
beraturan. Siapa yang mengajarinya Al-Qur’an juga tidak jelas karena
aksen Arab dan Qur’annya benar-benar sudah keluar dari makhraj, tidak
bagus, dan tidak memenuhi kaidah ilmu Tajwid. Dimana dan dengan ulama
siapa Zakir Naik belajar Tafsir, Hadits, Fiqih, Syariah, bahasa Arab,
dan lain sebagainya juga tidak pernah diketahui. Tiba-tiba sosok ini
muncul bak seorang ulama besar yang faham betul tentang Islam, memahami
tafsir, memahami hadits, memahami syariat, dan lain sebagainya. (Download ebook PDF Dr Zakir Naik, A Brief Profile dari IRF.net)
Dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan
bahwa dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia
seringkali mengeluarkan “fatwa” perihal masalah agama Islam yang bukan
bidangnya. Ia pun tidak ragu-ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab
Fiqih dan Hadits. Dikatakan Zakir Naik bahwa para Imam Fiqih dan Hadits
itu tidak memiliki informasi (ilmu) yang lengkap saat mereka (para Imam
Fiqih dan Hadits) memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam.
Bahkan Zakir Naik menyatakan bahwa menerima dan mengikuti para Imam
tersebut sebagai guru dalam Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal
ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid.
Innalillahi, orang yang tidak jelas darimana belajarnya seperti Zakir
Naik, begitu mudahnya menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab.
Dikatakan Zakir Naik terpengaruh oleh
Syaikh Ahmad Deedat rahimahullah saat ia belajar ilmu kedokteran. Syaikh
Ahmad Deedat sendiri adalah seorang ulama sufi ahlussunnah wal jamaah
dari Afrika Selatan (1918-2005) yang konsen di bidang perbandingan
agama. Dari sini menunjukan bahwa Zakir Naik mulai membaca dan mengkaji
buku-buku agama Islam saat ia berusia sekitar 22 tahun atau saat kuliah
di Kedokteran sekitar tahun 1987. Hebatnya, hanya dalam waktu 3 tahun
(1987-1990) setelah membaca buku pelajaran agama Islam secara otodidak,
dan ini termasuk aktivitasnya sebagai mahasiswa kedokteran dengan
kegiatannya yang padat seperti mempelajari buku-buku kedokteran, ujian,
kepaniteraan klinik, dll, ia telah mempelajari segala sesuatu tentang
Islam dan mendirikan Islamic Research Foundation (IRF) pada Februari
1991 dan mulai berdakwah secara penuh. Sungguh aneh bin ajaib, cukup
berbekal belajar buku pelajaran agama Islam dalam 3 tahun sambil kuliah
kedokteran yang begitu sibuknya, tiba-tiba keluar sebagai “ulama”,
bahkan menyalahkan para ulama Imam ahlussunnah wal jamaah.
Lebih aneh lagi, dalam pidatonya, Zakir
Naik mengatakan dirinya telah mulai berdakwah sebelum IRF didirikan. Hal
ini menunjukan Zakir Naik mempunyai kemampuan luar biasa dalam
menghafal. Membaca buku pelajaran Islam tidak untuk dipahami, tetapi
hanya sekedar sebagai memori (dihafal). Semakin tajam memori seseorang
maka umumnya semakin cerdas, layaknya sebuah kamus yang menyimpan banyak
memori. Sama halnya dengan orang yang akan menghadapi ujian kenaikan
kelas. Dan dengan sedikit polesan kemahiran berorasi maka jadilah tampak
perdebatan yang menghebohkan. Alhasil banyak penonton yang terpukau.
Meski begitu Zakir Naik sering mengaku
sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. Benarkah? Tentu saja ini tidak benar.
Bagaimana mungkin seorang murid menyebut gurunya sendiri secara tak
langsung sebagai orang yang syirik dan kafir. Lihatlah bagaimana Zakir
Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa
Alihi wa Shohbihi wa Sallam adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan
perbuatan tersebut dengan Festival Hindu dan Kristen (festival
orang-orang kafir). Maulid Nabi dikatakan Haram, dan lain sebagainya.
Na’udzubillah. Padahal Syaikh Ahmad Deedat yang ia klaim sebagai gurunya
adalah pecinta maulid Nabi.
Syaikh Ahmad Deedat berkata,
“Ada jutaan muslim termasuk saya, dan
saya tidak keberatan merayakan hari-hari yang baik seperti yang anda
katakan (peringatan maulid nabi). Saya katakan itu OK. Dan saya tidak
akan bersama anda, saya tidak setuju dengan anda, saya tidak ingin anda
untuk mengubah (pendapat) saya”.
Kenapa? Karena Zakir Naik adalah
penganut ajaran Salafi (Wahabi), yang begitu mudah menuduh syirik,
bid’ah, kafir kepada umat Islam yang berbeda dengannya. Dalam Wikipedia
berbahasa Inggris, Zakir Naik disebut sebagai dai Salafi (Wahabi) paling
berpengaruh di India, bahkan dikatakan sebagai dai Salafi (Wahabi)
paling terkemuka di dunia. Tidak hanya itu, dalam halaman Wikipedia
dituliskan agama Zakir Naik adalah Salafi Islam, kemudian diganti
menjadi Sunni Islam, dan sekarang menjadi Islam saja tanpa embel-embel.
Meski dirinya hakikatnya seorang Salafi tapi tidak sedikit orang-orang
Salafi yang menyebutkan Zakir Naik adalah sesat dan menyesatkan.
Sebagai penganut ajaran Salafi (meski
dirinya menolak Salafi), Zakir Naik beraqidah mujassimah tidak diragukan
lagi. Ia menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhlukNya yang
merupakan bagian faham mujassimah. Dikatakan Zakir Naik bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua tangan, dua mata, wajah, kaki, tulang
kering, dan memiliki tubuh yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala duduk
di atas langit, di atas kursi yang besar menghadap ke ‘Arsy. Inilah
aqidah di luar ahlussunnah wal jamaah yang banyak dianut kaum Salafi
(Wahabi) yang membedakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Kemudian seeorang bertanya, “Bagaimana
tangan dan tubuh Allah?”. Zakir naik menjawab, “Kami tidak tahu, yang
tahu hanya Allah”. Dan kalau kita cermati pandangan aqidah mujassimah
yang dianut Salafi ini serupa dengan pemikiran Tuhannya Hindu, Dewa
Wisnu. Bedanya tuhannya Hindu itu menikah dan ada model patung dewa
Wisnu. Banyak sekali pemahaman dan ajaran Salafi Wahabi yang dianut
Zakir Naik yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini.
Selain menganut aqidah salafi
mujassimah, Zakir Naik juga acapkali menyebarkan pemahaman dan pemikiran
ajaran Ahmadiyyah. Dalam berbagai pidato dan tulisan-tulisannya, Zakir
Naik mengklaim bahwa kemunculan Nabi Muhammad Shollalohu ‘Alaihi wa
Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah disebutkan dalam kitab suci agama
Hindu. Pemikiran Zakir Naik tersebut ternyata bersumber dari buku
“Mohammad (صلى الله عليه و آله وسلم) in world scriptures” karya Abdul
Haq Vidyarthi Qadiyani (1888-1977), seorang penyebaar dan penganut
ajaran Ahmadiyyah Lahore India. Bahkan tulisan-tulisan Zakir Naik ini
hampir sama persis dan banyak kemiripan dengan tulisan yang ada dalam
buku Qadiyani itu. Anehnya, Zakir Naik tidak pernah menyebutkan sumber
kutipan tulisannya itu. (Download ebook Hubungan Zakir Naik dengan Ajaran Ahmadiyah Qadiyani)
Ketika ditanya apakah kitab Wedha dan kitab suci umat Hindu lainnya adalah wahyu Allah, Zakir Naik menjawab,
“Tidak ada teks dalam Al Quran dan
Hadits shahih yang menyebutkan nama bahwa wahyu itu dikirim ke India.
Karena nama-nama Weda atau Hindu lainnya tidak ditemukan dalam Quran dan
Hadits shahih, maka seseorang tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa
kitab-kitab tersebut berasal dari wahyu Allah. Kitab-kitab tersebut
mungkin saja wahyu dari Allah atau mungkin bukan wahyu dari Allah”.
Dari jawaban di atas, Zakir Naik
sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia percaya kitab suci agama Hindu
adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (sama halnya dengan Alkitab
Injil yang telah berubah), meskipun ia sendiri tidak ingin menyatakannya
secara terbuka. Hal ini dipertegas dengan jawaban Zakir Naik yang tidak
berani mengatakan kitab suci umat Hindu adalah bukan firman Allah
Ta’ala, tetapi justru ia menjawab dengan plin-plan dengan mengatakan
“mungkin wahyu Allah atau mungkin bukan”. Ini tidak lain karena ia
terpengaruh pemikiran ajaran Ahmadiyyah Lahore dari Qadiyani.
Dan anehnya banyak orang-orang Islam
yang sudah terpengaruh dengan pemikiran Ahmadiyyah yang dibawa oleh
Zakir Naik ini, baik disadari maupun tidak disadari. Meskipun Zakir Naik
sendiri tidak pernah berani mengatakan di depan publik bahwa itu hasil
pemikiran Ahmadiyah (Qadiyani). Tapi fakta menunjukan pidato dan
tulisannya mengambil dari tulisan Ahmadiyah.
Fakta-fakta di atas tentu sangat
berbahaya, tetapi ada yang lebih berbahaya lagi ketika Zakir Naik sudah
mempermainkan ayat Al Quran dan Hadits. Ayat Al Quran dan Hadits sering
disalah tafsirkan. Menafsirkan Quran tanpa ilmu dan asal-asalan. Ini
tentu sangat berbahaya.
Salah satu contohnya adalah bagaimana
Zakir Naik menyamakan arti kata bahasa Arab dari Syifa dan Syafa’ah
dalam Al Qur’an. Dua kata yang artinya berbeda tetapi dianggap sama oleh
Zakir Naik. Ini kesalahan fatal. Akibatnya ia pun tergelincir dalam
memahami Quran, tidak sesuai dengan pemahaman para ulama tafsir. Ini
adalah bentuk kebohongan nyata yang disengaja oleh Zakir Naik dalam
menipu umat Islam khususnya mereka yang awam. Sebuah fitnah keji yang
mengatasnamakan Qur’an. Para ulama sudah memperingatkan Zakir Naik
tetapi pemikirannya ini tetap ia sebarkan.
Masih banyak penyimpangan-penyimpangan
Zakir Naik lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Yang jelas
dan perlu ditekankan disini adalah kita harus berhati-hati dengan Zakir
Naik. Banyak ulama-ulama lain yang mestinya kita ikuti, yang jelas
sanad ilmunya, jelas siapa gurunya, jelas keilmuannya, yang bersamabung
dengan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam,
yang akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat.
Dikutip dan dialihbahasakan dari Correct
Islamic Faith (Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah Ash-Shohihah) International
Association pimpinan Syaikh Al-Habib Mir Asadullah Qadiri, Hyderabad,
India.
Pemikiran dan Aqidah yang Dianutnya
ZAKIR NAIK BOLEHKAN UMAT ISLAM MENYEBUT ALLAH DENGAN PANGGILAN NAMA DEWA HINDU
Sang orator ulung Zakir Naik dalam tulisannya berjudul “Concept of God in Hinduism”
menyatakan bahwa umat Islam diperbolehkan mengganti nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama dewa umat Hindu seperti Wisnu atau
Brahma. Tulisan Zakir Naik tersebut masih dapat anda temukan salah
satunya dalam halaman resmi website Islamic Research Foundation (IRF) miliknya atau dalam bukunya yang berjudul “Islam and Universal Brotherhood” hal. 33.
Berikut salah satu kutipannya yang diambil dari website irf.net miliknya:
…Among the various attributes of God,
one of the beautiful attributes mentioned in the Rigveda Book II hymn 1
verse 3, is Brahma. Brahma means ‘The Creator’. Translated into Arabic
it means Khaaliq. Muslims can have no objection if Almighty God is
referred to as Khaaliq or ‘Creator’ or Brahma. However if it is said
that Brahma is Almighty God who has four heads with each head having a
crown, Muslims take strong exception to it….
…Another beautiful attribute of God
mentioned in the Rigveda Book II hymn 1 verse 3 is Vishnu. Vishnu means
‘The Sustainer’. Translated into Arabic it means Rabb. Again, Muslims
can have no objection if Almighty God is referred to as Rabb or
‘Sustainer’ or Vishnu. But the popular image of 9[Atharveda Samhita vol 2
William Dwight Whitney page 910], Vishnu among Hindus, is that of a God
who has four arms, with one of the right arms holding the Chakra, i.e. a
discus and one of the left arms holding a ‘conch shell’, or riding a
bird or reclining on a snake couch. Muslims can never accept any image
of God….
(Lihat: Concept of God in Hinduism by Dr. Zakir Naik in irf.net)
Yang artinya kurang lebihnya addalah:
…Diantara berbagai nama Allah, salah
satu nama yang indah yang disebutkan dalam kitab Rgveda Buku II himne 1
ayat 3 adalah Brahma. Brahma berarti “Pencipta”. Dalam bahasa Arab
disebut Khaliq. Umat Islam tidak keberatan (diperbolehkan) kalau Allah
Subhanahu wa Ta’ala dipanggil dengan Khaliq atau Pencipta atau Brahma.
Namun, jika dikatakan Brahma adalah Tuhan Yang Maha Kuasa yang memiliki
empat kepala dengan masing-masing kepala memiliki mahkota, umat Islam
sangat tidak setuju…
…Nama lain yang indah dari Allah yang
disebutkan dalam kitab Rgveda Buku II himne 1 ayat 3 adalah Wisnu. Wisnu
artinya “Pemelihara (alam semesta)”. Dalam bahasa Arab disebut Rabb.
Sekali lagi, umat Islam tidak keberatan (diperbolehakn) jika Allah
Subhanahu wa Ta’ala dipanggil sebagai Rabb atau Pemelihara (alam
semesta) atau Wisnu. Tetapi penggambaran terkenal dalam Atharveda
Samhita vol Halaman 2 William Dwight Whitney 910, Vishnu adalah Tuhan
yang mempunyai 4 tangan, tiap tangan memegang cakra, tangan kirinya
memegang rumah kerang, menaiki seekor burung garuda sambil bersandar
pada gulungan ular. Umat muslim tidak pernah menerima penggambaraan
Allah…
Begitulah pandangan Zakir Naik yang
mengatakan kalau umat Islam tidak keberatan mengganti nama Allah
Subhanahu wa Ta’ala dengan Brahma atau Wisnu. Coba kita kembalikan
kepada umat Islam, maukah Anda duhai Muslimin wal Muslimat memanggil
“Ya Brahma”, “Ya Wisnu”? Dan maaf kalau ini terlalu vulgar, maukah Anda
mengganti lafadz Bismillahirrahmanirrahim dengan “BismiBrahma” atau
“BismiWisnu” Ar-Rahmani Ar-Rahim? Tentu saja tidak mau.
Oleh karena itulah para ulama dari Darul
Ifta Darul Ulum Deobandi India mengeluarkan fatwa tegas menolak
pemikiran Zakir Naik ini. Para ulama Darul Ulum melarang umat Islam
memanggil nama Allah dengan kata-kata non-Arab tersebut sebagaimana
diyakini Zakir Naik. Tidak boleh memanggil nama Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan menggunakan nama-nama yang tidak khusus bagiNya. Bagaimana
mungkin diperbolehkan untuk memanggil Allah dengan nama-nama seperti
Wisnu dan Brahma yang mana itu adalah bagian tanda-tanda dari ajaran
Hindu?
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna
(nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah), maka
bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap
apa yang telah mereka kerjakan. (Quran Surat Al-A’raf:180)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki
nama-nama yang indah, nama-nama yang agund dan bagus. Maka sebutlah dan
panggilah Allah dengan nama-nama tersebut, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya
Malik, Ya Quddus, Ya Salam, dan lain sebagainya. Bukan menyebut Allah
dengan nama seperti Ya Brahma, Ya Wisnu, yang identik dengan ajaran
Hindu.
ZAKIR NAIK DAN HUBUNGANNYA DENGAN AJARAN AHMADIYAH QADIYANI
Dalam tulisannya yang berjudul “Prophet Muhammad (pbuh) in Hindu scripture”
dan juga pidato-pidatonya, Zakir Naik mengklaim bahwa kemunculan Nabi
Muhammad Shollalohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah
disebutkan dalam kitab suci agama Hindu. Salah satu tulisannya dapat
ditemukan dalam halaman website resmi IRF miliknya.
Melalui tulisannya tersebut, Zakir Naik
sebenarnya ingin mengupas beberapa nubuwah akan kemunculan Nabi Muhammad
yang menurutnya disebutkan dalam kitab Hindu. Zakir Naik mengemukakan
berbagai nubuwat dalam empat sub judul, yaitu:
I. Muhammad (pbuh) prophesised in Bhavishya Purana,
II. Prophet Muhammad (pbuh) Prophesised in Atharvaveda,
III. Muhammad (pbuh) prophesised in the Rigveda,
IV. Muhummad (pbuh) is also prophesised in the Samveda.
Pada sub judul pertama dikatakan ada 3
nubuwah dari kitab Bhavishya Purana. Diantaranya nubuwah pertamanya
sebagaiman dikutip dari Zakir Naik adalah,
According to Bhavishya Purana in the
Prati Sarag Parv III Khand 3 Adhay 3 Shloka 5 to 8. “A malecha
(belonging to a foreign country and speaking a foreign language)
spiritual teacher will appear with his companions. His name will be
Mohammad. Raja (Bhoj) after giving this Maha Dev Arab (of angelic
disposition) a bath in the Panchgavya and the Ganga water (i.e.
purifying him of all sins) offered him the present of his sincere
devotion and showing him all reverence said, “I make obeisance to thee. O
ye! The pride of mankind, the dweller in Arabia, Ye have collected a
great force to kill the Devil and you yourself have been protected from
the malecha opponents.”
Ada apa dengan nubuwah pertama Zakir
Naik di atas? Ternyata tulisan yang dikatakan oleh Zakir Naik sebagai
nubuwah pertama di atas adalah tulisan yang hampir sama persis dengan
nubuwah pertama yang dikarang oleh Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani
(1888-1977) dalam bukunya yang berjudul “Mohammad in world scriptures”. Bedanya, Zakir Naik menuliskan ejaan malecha, sementara Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani menuliskannya dengan ejaan malechha dan dengan sedikit tambahan kata-kata yang lain.
Pertanyaannya sekarang, siapa Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani?
Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani adalah
seorang cendekiawan gerakan Ahmadiyah Lahore yang berpusat di Lahore,
ibukota Provinsi Punjab, Pakistan. Gelar Vidyarthi diperolehnya karena
kemahirannya dalam memahami kitab Hindu Veda, dan gelar Qadiyani adalah
berasal dari kata Qadian, sebuah kota kecil di negara bagian Punjab,
India, tempat kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, pemimpin ajaran sempalan
Ahmadiyah.
Pemikiran Zakir Naik dalam tulisannya “Prophet Muhammad (pbuh) in Hindu scripture”
yang ia sebarluaskan di berbagai media ternyata adalah hasil pemikiran
ajaran Ahmadiyah dari Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani dalam bukunya
berjudul “Mohammad in world scriptures” atau “Mithaq-un-nabiyyin” dalam versi bahasa Urdu.
Pemikiran tersebut tidak hanya ditemukan
dalam kaitannya terkait dengan nubuwah pertama di atas. Tapi kemiripan
lain juga ditemukan dari tulisan Zakir Naik selanjutnya. Diantaranya,
Zakir Naik menuliskan,
“The Egyptian Monarchs were called as
Pharaoh and the Roman Kings were known as Caesar, similarly the Indian
Rajas were given the title of Bhoj”.
Sementara dalam bukunya Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani ditulis,
“Just as the Egyptian monarchs were
known as Pharaohs and the Roman kings were called Kaisers, similarly,
the Indian rajas were given the epithet of Bhoj”.
Kemudian dalam komentar Zakir Naik terkait ritual mandi suci di sungai Gangga dikatakan,
“The Prophet did not physically take a
bath in the Panchgavya and the water of Ganges. Since the water of
Ganges is considered holy, taking bath in the Ganges is an idiom,
which means washing away sins or immunity from all sorts of sins. Here
the prophecy implies that Prophet Muhammad (pbuh) was sinless, i.e.
Maasoom.”
Komentar yang mempunyai arti yang sama juga dituliskan oleh Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani,
“Another point which requires
elucidation is the Prophet’s taking bath in ‘Panchgavya’ and the water
of the Ganges. This did not, of course, actually happen as it was only a
vision; so we give it the interpretation that the Prophet will be
purged of and made immune from all sorts of sins.”
Dan masih banyak lagi persamaan dan
kemiripan tulisan Zakir Naik dengan pentolah ajaran Ahmadiyah Abdul Haq
Vidyarthi Qadiyani. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat tulisan Zahid
Aziz Qadiyani (pengikut Ahmadiyah) yang berjudul “Comparison of work of Zakir Naik Salafi and Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani” dalam website ahmadiyya.org.
Kemudian kalau kita mau telusuri, buku
karangan Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani yang tulisannya mirip dan bahkan
dikatakan sama persis dengan tulisan Zakir Naik telah diterbitkan pada
1936 (versi Urdu) dan 1940 (versi English), yang berarti 25 tahun
sebelum Zakir Naik dilahirkan karena Zakir Naik lahir pada 1965. Ini
berarti Zakir Naik telah melakukan plagiat. Kenapa? karena ia tidak
pernah menyebutkan darimana sumber tulisannya. Zakir Naik tidak pernah
menyatakan bahwa itu hasil pemikiran seorang cendekia Ahmadiyah bernama
Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani. Mungkinkah Zakir Naik tidak tahu atau
tidak mau tahu? Atau mungkin karena ia takut dituduh sebagai
penganut ajaran Ahmadiyah disebabkan telah menyebarkan paham dan ajaran
penulis Ahmadiyah? Atau ada alasan lainnya? Jawabannya ada pada Zakir
Naik sendiri.
Tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh
Zakir Naik membuat Ahmadiyya Anjuman Isha’at Islam Lahore (AAIIL),
sebuah organisasi gerakan Ahmadiyah Lahore, pada 2009 melayangkan
undangan kepada Zakir Naik untuk berdebat membuktikan kebenaran
tulisannya (Lihat: Majalah The Islamic Sunrise
terbitan AAIIL pada Agustus 2009 ). Tidak diketahui apakah Zakir Naik
kemudian memenuhi tantangan AAIIL atau tidak, karena tidak tertulis
dalam majalah tersebut. Tapi yang jelas, tulisan Zakir Naik yang kuat
dugaan adalah hasil plagiat milik Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani masih
terpampang di website miliknya di irf.net. Dan ia pun masih terus
menyebarkan pemahaman dan pemikirannya itu dengan leluasa. Dan bahkan
“menyihir” umat Islam yang mendengarnya.
Cover
Majalah Ahmadiyah AAIIL yang mengungkap tindakan plagiarisme Zakir Naik
terhadap tulisan hasil pemikiran cendekiawan Ahmadiyah. Foto:
archive.org
ZAKIR NAIK PENGANUT AQIDAH MUJASSIMAH
Dalam sebuah program acara miliknya,
Zakir Naik pernah ditanya tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
dimana Allah Ta’ala? Zakir Naik menjawab yang intinya bahwa dalam Al
Quran disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di ‘Arsy,
sementara Hadits mengatakan Allah ada di langit, Allah berada di atas
Kursi. Silahkan simak video pernyataan Zakir Naik tersebut pada menit ke
1:55.
Keyakinan yang mengatakan Allah
bersemayam di atas ‘Arsy, Allah ada di langit, atau Allah duduk di atas
Kursi, atau Allah memiliki tangan, wajah, kaki, dan sebagainya merupakan
keyakinan-keyakinan batil lagi sesat. Keyakinan tersebut adalah
keyakinan aqidah di luar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Maha Suci
Allah atas apa yang mereka sifatkan.
Sementara di dalam aqidah ahlussunnah wal jama’ah menyatakan bahwa,
الله موجود بلا مكان ولا جهة ولا كيف
“ALLAH ADA TANPA TEMPAT, TANPA ARAH, & TANPA DISIFATI OLEH SIFAT MAKHLUK”
Aqidah inilah aqidah yang lurus yang
dianut para sahabat Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi
wa Sallam, para Imam Madzahibil Arba’ah (Imam Hanafi, Maliki, Syafii,
dan Hanbali), dan para ulama ahlussunnah wal jama’ah di dalam dalam
menjelaskan kesucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya dan di dalam
menjelaskan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.
Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘Anhu berkata:
“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa
tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap
sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan
oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h.
333).
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy
(makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan
kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya”
(Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain
al-Firaq, h. 333).
Sementara itu Al-Imam al-Mujtahid Abu
Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit rahimahullah, salah seorang ulama salaf
terkemuka, perintis madzhab Hanafi, berkata:
“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada
orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan
dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada
tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum
segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat
al-Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan
risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).
“Dan kita mengimani adanya ayat
“ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” -sebagaimana disebutkan dalam
al-Qur’an- dengan menyakini bahwa Allah tidak membutuhkan kepada ‘arsy
tersebut dan tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang
memelihara ‘arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena
jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk
menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh
makhluk-Nya sendiri. Jika membutuhkan kepada duduk dan bertempat, lantas
sebelum menciptakan makhluk-Nya -termasuk ‘arsy- di manakah Dia? Allah
Maha Suci dari itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah
dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid
al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syekh Mullah ‘Ali al-Qari dalam
Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70.).
Dan Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn
Idris asy-Syafi’i rahimahullah, perintis madzhab Syafi’i, dalam salah
satu kitab karyanya, al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar,
menuliskan:
“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat.
Argumentasi atas ini ialah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa
tempat. Maka setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang
azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa tempat. Tidak
boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada Dzat-Nya
maupun pad asifat-sifatNya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia
pasti memiliki arah bawah. Dan bila demikian maka ia pasti memiliki
bentuk tubuh dan batasan. Dan sesuatu yang memiliki batasan pasti
sebagai makhluk, dan Allah maha suci dari pada itu semua. Karena itu
mustahil pada haknya terdapat istri dan anak. Sebab hal semacam itu
tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan
terpisah. Allah mustahil pada-Nya sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah.
Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah.
Oleh sebab itu adanya istilah suami, istri dan anak pada hak Allah
adalah sesuatu yang mustahil” (Lihat al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh
al-Akbar, h. 13).
Pada bagian lain dalam kitab yang sama
dalam pembahasan firman Allah QS. Thaha: 5, al-Imam as-Syafi’i
menuliskan sebagai berikut:
“Jika dikatakan bukankah Allah telah
berfirman: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”? Jawab: Ayat ini termasuk
ayat mutasyabihat. Sikap yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat
yang semacam dengannya ialah bahwa bagi seorang yang tidak memiliki
kompetensi dalam bidang ini agar supaya mngimaninya dan tidak secara
mendetail membahasnya atau membicarakannya. Sebab seorang yang tidak
memiliki kompetensi dalam hal ini ia tidak akan aman, ia akan jatuh
dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang semacam ini, juga seluruh
orang Islam, adalah meyakini bahwa Allah -seperti yang telah kita
sebutkan di atas-, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku
atas-Nya waktu dan zaman. Dia maha suci dari segala batasan atau bentuk
dan segala penghabisan. Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan
arah. Dengan demikian orang ini menjadi selamat danri kehancuran dan
kesesatan” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Serta Al-Imam al-Mujtahid Abu ‘Abdillah
Ahmad ibn Hanbal rahimahullah, perintis madzhab Hanbali, juga seorang
Imam yang agung ahli tauhid. Beliau mensucikan Allah dari tempat dan
arah. Bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzih.
Dalam pada ini as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami menuliskan:
“Apa yang tersebar di kalangan
orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa
beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh
hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya”
(Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, h. 144).
Ketahuilah duhai saudaraku, Allah adalah
Dzat yang keberadaan-Nya tidak harus terikat berada di tempat mana,
termasuk tidak berada di langit maupun di surga. Karena Allah itu bukan
makhluk yang membutuhkan tempat. Allah adalah Dzat yang berdiri sendiri,
dan tempat itu adalah makhluk. Sedangkan langit juga adalah makhluk,
dan tempat yang berada di bawah juga di atas langit adalah makhluk.
Semua makhluk, termasuk langit, dan tempat yang berada di atas maupun di
bawah langit itu adalah ciptaan Allah, sedangkan sebelum Allah
menciptakan makhluk, Allah tidak membutuhkan apapun terhadap makhluk.
Termasuk tidak butuh makhluk yang bernama tempat.
Artinya Allah tidak membutuhkan tempat
untuk keberadaan-Nya, karena Allah itu bukan suatu materi yang
membutuhkan tempat. Allah adalah Dzat yang Maha Suci dari membutuhkan
tempat. Keberadaan Allah itu, tidak sama dengan keberadaan makhluk.
Karena keberadaan makhluk itu selalu membutuhkan tempat, dan Allah itu
sangat berbeda dan tidak sama dengan makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ – سورة الشورى:١١
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat” (Quran Surat Asy-Syura: 11)
Lafadz innallah ma`ana, itu
berarti Sungguh Allah menyertai kita, artinya kekuasaan dan ilmunya
Allah meliputi seluruh alam, sehingga di manapun kita berada, maka Allah
selalu mengetahui perilaku kita.
Innahu fis saama (Sesungguhnya Dia ada
di langit), artinya kekuasaan Allah itu meliputi langit. Wa innahu fil
ardli (dan sesungguhnya Dia ada di bumi), artinya kekuasaan Allah itu
meliputi bumi.
Fainamaa tuwallu fatsamma wajhullah
(kemana saja engkau menghadap/ ke langit, ke bumi, ke segala penjuru,
maka di sanalah Allah berada, alias kekuasaan dan ilmu-Nya berada di
mana-mana), jelas-jelas ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak menetap
di langit seperti pemahaman kaum Wahhabi (Salafi).
Jadi, menurut Ahlus sunnah wal jamaah Allah itu adalah Dzat yang
tidak membutuhkan tempat dan kekuasaan serta ilmu-Nya meliputi segala
sesuatu dan di mana-mana. Wallohu A’lam.
Saya punya kitab Tafsir Jalalain terbitan Beirut, Libanon. Saya beli
di Kaliwungu dulu pada tahun 2011. Salah satu kitab yang menjadi rujukan
penting Aswaja. Karangan dua imam; Jalaluddin Al Mahalli dan
disempurnakan oleh Jalaluddin As Suyuthi, karenanya disebut tafsir
Jalalain, Tafsir –karangannya– dua imam bergelar Jalaluddin.
Namun, pada catatan kaki [foot note] nya ada di antara nya yang
menyebutkan tentang pembagian tauhid menjadi tiga, yakni ulühiyyah,
rubübiyyah dan asmä was sifät. Tri tauhid ciri khas ajaran Wahh*bi.
Bahkan dikatakan mereka, bahwa seluruh nabi dan Rosül membawa ajaran ini
[?].
Dengan ajaran ini, mereka mengatakan bahwa Firaun, Abu Lahab itu beriman karena masih mengakui ada nya Tuhan [rubübiyyah].
Dan dengan ajaran ini pula kaum Wahhä*bi mengkafirkan kaum muslimin
yang ziarah, Tawassul, tahlil dsb. Karena menurut mereka yang melakukan
tawassul itu belum ber tauhid uluhiyyah. Ber tuhan tapi menyekutukan
Nya. Sehingga kaum muslimin yang bertawassul menurut mereka bukan orang
Isläm alias kafir. Murtad!! Dalam pandangan mereka, yang tidak ber
tauhid uluhiyyah menurut mereka layak dibunuh.
Paham ini lah sumber terorisme, radikalisme. Sehingga bom bunuh diri,
teror, akan selalu ada di negeri ini kalau ajaran ini tidak kita babat
habis sampai ke akar-akar nya.
Padahal menurut Aswaja antara ulühiyyah dan rubübiyyah adalah satu paket, tidak boleh dipisahkan antara keduanya.
Kitab-kitab ulama saja sudah dikontaminasi oleh racun.
[Perhatikan foot note yang dilingkari warna merah]
Dalam suatu kesempatan diplomasi antara Van der Plas (Gubernur Hindia
Belanda untuk wilayah Jawa Timur sebelum Jepang mengalahkan Belanda
tahun 1942) dengan KH A Wahab Chasbullah, diceritakan sebelum masuk ke
pembicaraan inti, Van der Plas terlebih dahulu hendak menguji kecakapan
Kiai Wahab Chasbullah dalam bidang teologi.
Ia mengajukan satu pertanyaan dan lewat pertanyaan ini ia menduga Kiai Wahab akan terperangkap pada pertanyaan pembuka tersebut.
“Kiai, menurut Kiai lebih enak dan nyaman mana antara bernaung di
bawah pohon hidup dengan bernaung di bawah pohon yang mati,” tanya Van
der Plas.
Demi mendengar pertanyaan di atas, Kiai Wabab langsung paham, bahwa
yang dimaksud dengan “pohon mati” dan “pohon hidup” dalam kalimat
pertanyaan tersebut bukanlah arti harfiah atau makna hakiki yang
dikehendaki Van der Plas, melainkan arti majazi, ada makna tersirat
dalam kalimat tersebut yang sengaja disajikan secara implisit untuk
menjebaknya di awal pembicaraan.
Kiai Wahab Chasbullah sebagai Kiai yang sekian lama nyantri di banyak
pesantren termasuk berguru ilmu alat kepada Syaikhona Kholil Bangkalan,
pastilah beliau telah matang dalam menguasai ilmu mantiq (logika
Aristoteles) dan balaghoh (susastra arab) sehingga tidak sulit bagi Kiai
Wahab memahami esensi yang terkandung di balik kalimat pertanyaan
tersebut.
Kiai Wahab dengan cepat mampu menafsirkan bahwa “pohon hidup” yang
dikehendaki Van der Plas ialah Nabi Isa yang masih hidup sampai kini di
langit. Hal ini sebagai representasi agama Kristen agamanaya pemerintah
Hindia Belanda, dan “pohon mati” diinterpretasikan dengan Nabi Muhammad
yang sudah wafat sebagai representasi agama Islam, agamanya mayoritas
orang pribumi Nusantara.
“Saya lebih memilih beteteduh di pohon mati,” jawab Kiai Wahab mantap.
Mendengar jawaban Kiai Wahab, Van der Plas kaget, tak mengira sebelumnya bila Kiai Wahab akan menjawab demikian.
“Bagaimana bisa Kiai memilih berteduh di bawah pohon mati, apa argumentasinya?”
“Sejam saja saya berada di bawah pohon hidup di waktu malam sudah
begitu tersiksa, ada gigitan nyamuk, hawa dingin, suasana senyap, semua
itu membuat saya tidak tahan. Tapi tiap malam saya berteduh di pohon
mati justru begitu nikmat dan nyamannya. Lihat dalam gedung ini, itu
reng-reng di atas, balok-balok, bukankah itu semua pohon mati,” jawab
Kiai Wahab begitu taktisnya.
Fragmen cerita perdebatan di atas beberapa kali penulis dengar dari
cerita almagfurlah KH Abdul Aziz Mansyur, Pengasuh Pondok Pesantren
Pacul Gowang Jombang dan Pimpinan Badan Pembina dan Kesejahteraan Pondok
Pesantren Lirboyo (BPK P2L) dalam beberapa kesempatan ceramahnya.
Meskipun belum ditemukan dalam literatur tertentu atau buku sejarah,
tapi setidaknya fragmen seperti ini dapat kita golongkan sebagai sejarah
lisan munurut Kuntowijoyo. Pasti almarhum KH Abdul Aziz Mansur yang
wafat pada akhir tahun lalu punya referensi. Setidaknya pernah mendapat
tuturan cerita di atas dari orang tua terdahulu yang menjumpai langsung
zaman kolonialisme Belanda. (M Haromain).
Source: nu.or.id