Selasa, 24 Mei 2016

SANAD ULAMA NUSANTARA UNTUK KITAB MINHAJ ATH-THALIBIN KARYA IMAM AN-NAWAWI DAN KANZU AR-RAGHIBIN KARYA IMAM AL-MAHALLI


minhaj tolibin
Khataman dan Ijazah kitab Kanzu ar-Raghibin Syarh Minhaj ath-Thalibin li an-Nawawi karya Imam Jalal ad-Din al-Mahalli untuk santri Sanah Rabi’ah, malam Jumat 28 Rajab 1437 H/ 5 Mei 2016 M di Masjid STAI Imam Syafi’i Cianjur.

Alhamdulillah Ala Niamihi, kitab yg terdiri dari 4 juz ini telah dibacakan dan diterangkan secara perhuruf dan perkata selama 4 tahun, mulai tahun 2012 hingga 2016, setiap minggunya 5 pelajaran dalam 5 hari (ahad sampai kamis), setiap pelajaran menghabiskan waktu 1 jam.
Adapun masyayikh yang mengajarkan adalah:
1. Tahun pertama/ juz pertama oleh Syaikh Syadi Arbasy ad-Dimasyqi
2. Tahun kedua/ juz 2 oleh Syaikh Muhammad Darwisy ad-Dimasyqi
3. Tahun ketiga/ juz 3 oleh Syaikh Mahir al-Munajjid ad-Dimasyqi
4. Tahun keempat/ juz terakhir oleh Syaikh Syadi Arbasy ad-Dimasyqi.
Betapa gembiranya saya serta teman2, ketika mendengar silsilah sanad kitab yang diberikan kepada santri Sanah Rabi’ah ini melalui jalur ulama Nusantara yang telah disebutkan oleh Syaikh Yasin al-Fadani dalam kitabnya yg berjudul al-‘Iqdu al-Farid min Jawahir al-Asanid.
Berikut adalah Sanad untuk kitab Minhaj ath-Thalibin karya Imam an-Nawawi:
Santri Sanah Rabiah di Jami’ah Imam Syafi’i dari
1. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Syadi Arbasy ad-Dimasyqi, dari
2. Syaikh al-Allamah al-Faqih al-Ushuli Hasan Hitou, hafizhahumallah, syaikh Hasan dari
3. Syaikh Musnid al-‘Ashr YASIN AL-FADANI, dari
4. Syaikh al-Kiyahi BAQIR BIN NUR AL-JOGJAWI, Syaikh ALI BIN ABDULLAH AL-BANJARI, dan al-Faqih syaikh SHADAQAH BIN HAJI ABU BAKAT BIN RASYAD AL-MEDANI AS-SUMATHRI, ketiganya dari
5. Syaikh al-Kiyahi MAHFUZH BIN ABDULLAH AT-TARMASI, dari
6. Syaikh ZAINUDDIN BIN BADAWI AS-SUMBAWI, dari
7. Syaikh ABDUL KARIM AS-SAMBASI, dari
8. Syaikh al-Muammar Kyai NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI, dari
9. Syaikh ARSYAD BIN ABDUS SHOMAD AL-BANJARI, dari
10. Syaikh ABDUS SHOMAD BIN ABDURRAHMAN AL-FALIMBANI,
***tahwil sanad***
Syaikh Yasin al-Fadani juga meriwayatkan dari,
4. Habib al-Muammar ALI BIN ALI AL HABSYI AL MADANI, dan Kyai ABDUL MUHITH BIN YA’QUB SIDOARJO, keduanya dari
5. Al-Faqih kyai UMAR BIN SHOLEH BIN UMAR AS-SAMARANI, dari
6. Ayahnya, yaitu Syaikh SHOLEH BIN UMAR AS-SAMARANI, dari
7. Syaikh ABDUS SHOMAD BIN ABDUR RAMHAN AL-FALIMBANI, dari
8. Al-Muammar AQIB BIN HASANUDDIN BIN JA’FAR AL-FALIMBANI, dari
9. Pamannya, yaitu Syaikh THAYYIB BIN JA’FAR AL-FALIMBANI, dari
10. Ayahnya, yaitu Syaikh JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN BADRUDDIN AL-FALIMBANI, dari
11. Imam Syamsuddin Muhammad bin Ala’ al-Babili, dari
12. Imam Nurudiin Ali bin Yahya az-Ziyadi, dari
13. Imam Jamaluddin Sayyid Yusuf bin Abdullah al-Armayuni, dari
14. Imam Jalaluddin Abul Fadl Abdurrahman as-Suyuthi, dari
15. Syaikhul Islam, Alamuddin Sholih bin Umar al-Bulqini, dari
16. Ayahnya, yaitu Imam Sirajuddin Umar bin Ruslan al-Bulqini, dari
17. Imam Abul Hajjaj Yusuf bin Abdurrahman az-Mizzi, dari
18. Sang Muallif, Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi
Radhiyallahu Anhum Ajmain
Dan dibawah ini adalah sanad dengan jalur ulama Nusantara untuk kitab Syarh Imam al-Mahalli atas kitab Minhaj ath-Thalibin yang bernama Kanzu ar-Raghibin:
Santri Sanah Rabiah STAI Imam Syafi’i:
Santi Sanah Rabiah STAI IMAM SYAFII CIANJUR dari
1. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Syadi Arbasy ad-Dimasyqi, dari
2. Syaikh al-Faqih al-Ushuli Muhammad Hasan hitou, dari
3. Musnid al-Ashr Syaikh YASIN AL-FADANI, dari
4. Syaikh ALI BIN UBAIDULLAH AL-BANJARI, dari
5. Syaikh ZAINUDDIN BIN BADAWI AS-SUMBAWI, dari
6. Syaikh al-Muammar NAWAWI BIN UMAR AL-BANTANI, dari
7. Syaikh ARSYAD BIN ABDUS SHOMAD AL-BANJARI AL-MARTAFURI, dari
8. Sayyid Imam Murtadla az-Zabidi (penulis kitab Ithaf Sadat al-Muttaqin Syarah Ihya Ulumiddin), dari
9. Sayyid Ahmad bin Muhammad Syarif Maqbul al-Ahdal, dari
10. Sayyid Ahmad bin Idria al-Hasani, dari
11. Sayyid Muhammad bin Abu Bakar asy-Syilli al-Makki, dari
12. Imam Syamsuddin Muhammad bin Ala’ al-Babili, dari
13. Imam Ahmad bin Abu Bakar al-Khazraji al-Anshari yang terkenal dg sebutan Qu’ud al-Imam, dari Imam Yusuf bin Abdullah al-Husaini al-Armayuni, dari
14. Imam Jalaluddin as-Suyuthi, dari
15. Sang Muallif, asy-Syarih al-Muhaqqiq al-Mudaqqiq Imam Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mahalli
Radliyallahu anhum ajmain
Lahum al-Fatihah
Sumber : kertas ijazah yang ditulis Syaikh Syadi Arbasy dan kitab al-Iqdu al-Farid karya syaikh Yasin al-Fadani (hal.70-71 dan 77)

Minggu, 15 Mei 2016

Nasehat Rasulullah bila telah terjadi fitnah




Masih kita jumpai dari mereka ada yang memperolok-olok Habib, padahal mereka mengaku-aku ittiba’ li Rasulihi. Sedangkan Rasulullah bersabda yang artinya, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).
Apalagi para Habib dan para Sayyid adalah keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Mereka mendapatkan didikan agama langsung ari orangtua-orangtua mereka terdahulu tersambung kepada lisannya Imam Sayyidina Ali ra yang mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alahi wasallam
Sebagian mereka sangat membenci kaum Syiah khususnya yang membenci Khulafaur Rasyidin selain Imam Sayyidina Ali ra namun mereka tetap berakhlak tidak baik kalau memperolok-olok atau bahkan membenci keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.  Seharusnya bukanlah kebencian yang dituruti namun nasehatlah yang diperlukan bagi kaum Syiah yang masih “mencari kebenaran”.  Para Habib Hadramaut tetap memberikan nasehat kepada kaum Syiah yang masih “mencari kebenaran” sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada http://pondokhabib.wordpress.com/2010/05/07/surat-nasehat-dari-para-habaib-hadramaut-untuk-tokoh-tokoh-syiah-dan-pengikutnya/
Keturunan cucu Rasulullah shallallahu alahi wasallam sangat berjasa menyiarkan Islam di negeri kita.  Diantara keturunan cucu Rasulullah shallallahu alahi wasallam adalah para Walisongo, selain mereka berjumlah sembilan orang, mereka adalah para Wali Allah generasi ke-sembilan.  Para Walisongo adalah keturunan ke 23 dan 24 kalau dihitung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus kepada putri Rasulullah Fathimah Radhiallahu Anha,
Habib Munzir Al Musawa menyampaikan bahwa mereka mengingkari Wali Songo karena mereka cemburu saja karena keberhasilan Walisongo, padahal para Walisongo itulah yang menyebarkan islam ke pulau jawa. Link: http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&catid=7&id=18869
Kita telah dapat melihat bermunculan ahli bid’ah sebenarnya. Ahli bid’ah adalah  mereka yang membuat perkara baru atau mengada-ada yang bukan kewajiban menjadi kewajiban (ditinggalkan berdosa) atau sebaliknya, tidak diharamkan (halal) menjadi haram (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya dan tidak dilarang  menjadi dilarang (dikerjakan berdosa) atau sebaliknya.
Rasulullah mencontohkan kita untuk menghindari perkara baru dalam kewajiban (jika ditinggalkan berdosa)
Rasulullah bersabda, “Aku khawatir bila shalat malam (tarawih) itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (HR Bukhari 687). Sumber: http://www.indoquran.com/index.php?surano=10&ayatno=120&action=display&option=com_bukhari
Begitu juga kita dapat ambil pelajaran dari apa yang terjadi dengan kaum Nasrani
‘Adi bin Hatim pada suatu ketika pernah datang ke tempat Rasulullah –pada waktu itu dia lebih dekat pada Nasrani sebelum ia masuk Islam– setelah dia mendengar ayat yang artinya, “Mereka menjadikan orang–orang alimnya, dan rahib–rahib mereka sebagai tuhan–tuhan selain Allah, dan mereka (juga mempertuhankan) al Masih putera Maryam. Padahal, mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.“ (QS at Taubah [9] : 31) , kemudian ia berkata: “Ya Rasulullah Sesungguhnya mereka itu tidak menyembah para pastor dan pendeta itu“. Maka jawab Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Betul! Tetapi mereka (para pastor dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)
Bid’ah dholalah adalah perbuatan syirik karena penyembahan kepada selain Allah.
Bid’ah dholalah adalah perbuatan yang tidak ada ampunannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda
إِنَّ اللهَ حَجَبَ اَلتَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ
Sesungguhnya Allah menutup taubat dari semua ahli bid’ah”. [Ash-Shahihah No. 1620]
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu dan janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 87).
Sekarang telah mulai tampak ahli bid’ah bermunculan. Mereka membuat perkara baru (bid’ah) pada perkara yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa batas/larangan (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun  yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)
“mendekatkan dari surga” = kewajiban (ditinggalkan berdosa)
“menjauhkan dari neraka” = larangan , pengharaman (dikerjakan berdosa)
Jika ulama berfatwa dalam perkara kewajiban (ditinggalkan berdosa), perkara larangan (dikerjakan berdosa) dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa) wajib berlandaskan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla
Imam Malik ra berkata: “Janganlah engkau membawa ilmu (yang kau pelajari) dari ahli bid’ah; juga dari orang yang tidak engkau ketahui catatan pendidikannya (sanad ilmu); serta dari orang yang mendustakan perkataan manusia, meskipun dia tidak mendustakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Selain bermunculannya ahli bid’ah, kita juga sudah menyaksikan apa yang disampaikan oleh Imam Malik ra di atas,  “mendustakan perkataan manusia , meskipun dia tidak mendustakan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam” dengan adanya  fitnah terhadap perkataan ulama. Syeikh Al Azhar yang masih mempertahankan Sanad Ilmu, DR. Ahmad At Thayyib memperingatkan adanya upaya negatif terhadap buku para ulama dengan adanya permainan terhadap buku-buku peninggalan para ulama, dan mencetaknya dengan ada yang dihilangkan atau dengan ditambah, yang merusak isi dan menghilangkan tujuannya. Link: https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/27/ikhtilaf-dalam-persatuan/
Mereka mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh namun pada kenyataannya mereka tidak lebih mengikuti pemahaman ulama-ulama seperti ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim al Jauziah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab atau bahkan mengikuti pemahaman ulama Al Albani yang dikenal mereka sebagai ahli hadits pada zaman ini. Padahal kenyataannya beliau tidak diketahui sanad atau isnad  yang merupakan hal yang terpenting dalam bidang ilmu hadits (Mustolah Hadits).  Pendapat ulama-ulama lain terhadap mereka termuat dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/pendapat-ulama/
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kaum muslim bila telah terjadi fitnah antara lain
Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’
Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’
Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)
Dari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.
Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’.
Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.
Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang artinyai : “Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh. Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surah Al Nashr ayat 2 yang artinya  ‘Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai‘.
Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, ‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu’minin dengan jumlah tujuh ratus orang
Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman’
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata, ‘Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi’
Dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, ‘Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini’. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman‘.
Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasehati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana.
Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencitaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku
Jadi akibat mereka terkena ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi maka timbul lagi kaum yang mereka tidak sadari secara tidak langsung telah membenci Khulafaur Rasyidin khususnya Imam Sayyidina Ali bin Abi Thalib.  Sebagian bukti mereka korban ghazwul fikri (perang pemahaman) dari kaum Zionis Yahudi telah diuraikan dalam tulisan pada https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/26/bukti-korban/ dan https://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/24/korban-perang-pemahaman/
Sesuai nasehat Rasulullah bila telah terjadi fitnah maka kiblat ilmu beralih ke hadramaut (Yaman), ilmu yang bersumber dari ulama-ulama bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alahi wasallam.
Sanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur’an dan Sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi kaum kafir dan munafik. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.
Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )
Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.
Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga
Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ;  “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan”  Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203
Jadi, metode isnad tidak terbatas pada bidang ilmu hadits. Karena tradisi pewarisan atau transfer keilmuwan Islam dengan metode sanad telah berkembang ke berbagai bidang keilmuwan. Dan yang paling kentara adalah sanad talaqqi dalam aqidah dan mazhab fikih yang sampai saat ini dilestarikan oleh ulama dan universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Hal inilah yang mengapa Al-Azhar menjadi sumber ilmu keislaman selama berabad-abad. Karena manhaj yang di gunakan adalah manhaj shahih talaqqi yang memiliki sanad yang jelas dan sangat sistematis. Sehingga sarjana yang menetas dari Al-azhar adalah tidak hanya ahli akademis semata tapi juga alim.
Selain sanad, ciri dalam manhaj pengajaran talaqqi adalah ijazah. Ijazah ada yang secara tertulis dan ada yang hanya dengan lisan. Memberikan ijazah sangat penting. Menimbang agar tak terjadinya penipuan dan dusta dalam penyandaran seseorang. Apalagi untuk zaman sekarang yang penuh kedustaan, ijazah secara tertulis  menjadi suatu keharusan
Tradisi ijazah ini pernah dipraktekkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika memberikan ijazah (baca: secara lisan) kepada beberapa Sahabat ra. dalam keahlian tertentu. Seperti keahlian sahabat di bidang Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda artinya: “Ambillah Al-Qur’an dari empat orang. Yaitu, dari Abdillah ibn Mas’ud r.a., Saidina Salim r.a., Saidina Mu’az r.a. dan Saidina Ubai bin Ka’ab r.a.“. (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karenanya setelah kita melihat terjadinya perselisihan karena perbedaan pemahaman maka kita diperintahkan untuk mengembalikannya kepada Al Qur’an dan As Sunnah  serta agar kita selamat kembalikan berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah

Senin, 25 April 2016

Hizbut Tahrir Wahabi Gaya Baru

Hizbut Tahrir. MyKhilafah??


Soalan:
Askum Ustaz. Kami pernah mendengar satu golongan yang agak kasar cara mereka. Yang saya maksudkan adalah Hizbu Tahrir. Saya pernah mendengar mereka ini bersama golongan Wahabi untuk mendakyah ditengah masyarakat kita di Malaysia. Kami dari persatuan pelajar universiti-universiti Malaysia (namanya dirahsiakan) amat risau dengan gerakan Hizbut Tahrir ini. Minta ustaz jelaskan mengenai Hizbu Tahrir ini ustaz.
Jawaban:
Wa’alaikumsalam.
Em..sebenarnya saya kurang berminat menyatakan perihal gerakan-gerakan ini lebih-lebih lagi gerakan atau ajaran yang baru tetapi demi beramal dengan sabda Nabi maka ia perlu dijelaskan. Berkenaan Hizbu Tahrir you all boleh baca dibawah ini:
Selain kesesatan al-Wahhabiyyah al-Mujassimah yang sedang berleluasa di tanah air kita Malaysia dan seluruh dunia, ada satu lagi pertubuhan sesat yang amat perlu diperhatikan juga iaitu Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir adalah satu pertubuhan yang diasaskan oleh Taqiyyuddin al-Nabhani al-Falistini (meninggal pada tahun 1400 H) di Lubnan. Penyelewengan dan kesesatan pertubuhan ini ditentang oleh para ulama Ahlis-Sunnah wal-Jama^ah sedunia. Antara penyelewengan dan kesesatan Hizbut Tahrir ialah:
1. Menghukum Orang Yang Meninggal Dunia Tanpa Bay^ah Seorang Khalifah Sebagai Mati Jahiliyyah
Antara kesesatan Hizbut Tahrir dan bukti terkeluarnya kelompok ini dari majoriti umat Islam ialah pernyataan mereka bahawa orang yang meninggal dunia tanpa membay^ah seorang khalifah, maka matinya adalah mati jahiliyyah[1]. Ini bermakna – menurut mereka – kematian orang tersebut seperti matinya orang-orang yang menyembah berhala. Bahkan, ini bermakna – menurut mereka – bahawa seluruh orang Islam dalam tempoh seratus tahun terakhir ini mati dalam keadaan mati jahiliyyah. Ini berlaku sejak saat dunia Islam kehilangan khalifah. Apatah lagi, khilafah Islamiyyah tertinggi yang mengurus keperluan seluruh umat Islam telah terputus sejak sekian lama. Umat Islam yang pada masa sekarang tidak mengangkat khalifah, sesungguhnya mereka mempunyai uzur (alasan yang diterima). Yang dimaksud dengan umat Islam di sini adalah rakyat, kerana terbukti rakyat tidak memiliki kemampuan untuk mendirikan khilafah dan mengangkat seorang khalifah. Lantas berdosakah mereka jika memang tidak mampu!?. Bukankah Allah taala berfirman:
لاَيُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
Maknanya: “Allah ta’ala tidak membebankan terhadap satu jiwa, kecuali apa yang ia sanggup melakukannya”. (Surah al Baqarah: 286)
2. Berakidah Dengan Aqidah Muktazilah Atau Qadariyyah
Lebih sesat lagi, Hizbut Tahrir menyatakan bahawa seorang hamba adalah pencipta perlakuan ikhtiyari (perbuatan yang dilakukan atas dasar kemahuannya). Menurut mereka bahawa perkara yang diciptakan oleh Allah hanya perlakuan manusia yang bersifat idtirari (perbuatan yang di luar inisiatifnya seperti degupan jantung, takut, menggigil kerana kedinginan dan lain-lain)[2]. Dengan pernyataannya ini, Hizbut Tahrir telah menyalahi firman Allah taala:
اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ
Maknanya: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu”. (Surah al-Zumar: 62)
Segala sesuatu (shay’) dalam ayat ini mencakupi diri makhluk dan segala perbuatannya. Selain itu, mereka juga menyalahi firman Allah:
هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللهِ
Maknanya: “Adakah pencipta selain Allah?” (Surah Fatir: 3)
Ertinya tidak ada Pencipta atau yang mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada kecuali Allah. Seterusnya, mereka juga menyalahi firman Allah:
قُلْ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمحْيَاىَ وَمَمَاتِى للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Maknanya: “Katakanlah (wahai Muhammad) sesungguhnya solatku dan nusukku (sembelihan yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti al-Hady dan korban ‘Id al-Adha), hidupku dan matiku adalah milik Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya” (Surah Al-An^am: 162-163)
Ayat di atas jelas menyatakan bahawa solat dan amalan ibadat korban yang merupakan perbuatan ikhtiyari, serta kehidupan dan kematian yang bukan perbuatan ikhtiyari kesemuanya adalah ciptaan Allah, tidak ada yang menyekutui-Nya dalam hal ini. Sesungguhnya hanyalah Allah yang menciptakan kesemuanya itu; yang mengadakannya daripada tidak ada kepada ada.
Ayat-ayat tersebut semuanya menunjukkan bahwa segala apa yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah. Segala benda (zat-zat) dan sifat-sifatnya seperti bergerak, diam, warna, fikiran, rasa sakit, rasa nikmat, mengerti, lemah dan lain-lain, semuanya tidak lain adalah ciptaan Allah. Manusia hanyalah berbuat (yaf^al –Kasb-), tidak menciptakan (la yakhluq) perbuatannya sendiri. Ini adalah akidah yang telah menjadi ijmak (kesepakatan) para sahabat dan majoriti umat Islam hingga kini.
Al-Imam Abu Hanifah radiyaLlahu ^anhu berkata dalam kitabnya al-Wasiyyah:
وَالْعَبْدُ مَعَ أَعْمَالِهِ وَإِقْرَارِهِ وَمَعْرِفَتِهِ مَخْلُوقٌ, فَإِذَا الْفَاعِلُ مَخْلُوقٌ فَأَفْعَالُهُ أَوْلَى أَنْ تَكُونَ مَخْلُوقَةً
Maknanya: “Dan si hamba itu bersama-sama segala perbuatannya, pengakuannya dan pengetahuannya adalah makhluk ciptaan Allah. Oleh itu, apabila si pelaku itu suatu makhluk maka perlakuannya lebih utama sebagai makhluk ciptaan Allah”.
Inilah yang diyakini oleh majoriti umat Islam, baik mereka para ulamak Salaf (mereka yang hidup pada 300 tahun pertama hijriyyah; iaitu zaman sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’it tabi’in) mahupun ulama Khalaf (pasca zaman salaf hingga kini). Pendapat yang menyalahi akidah ini bererti telah menyalahi al-Quran dan hadis Nabi. Dalam sebuah hadis riwayat Ibn Hibban diriwayatkan bahawa Rasulullah sallaLlahu ^alayhi wa-sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ صَانِعُ كُلِّ صَانِعٍ وَصُنْعَتِهِ
Maknanya: “Sesungguhnya Allah pencipta setiap pembuat dan perbuatannya”.
Hadis di atas jelas menyatakan bahawa manusia sama sekali tidak menciptakan perbuatannya.
3. Beberapa Pegangan Sesat Yang Lain
Selain itu, ada lagi beberapa pegangan mereka yang menyeleweng dari pegangan Ahlis Sunnah wal Jama^ah. Antaranya:
1) Mereka mengatakan bahawa sifat ^ismah atau maksum para nabi dan rasul itu hanya berlaku selepas mereka menjadi nabi atau rasul, manakala sebelum kenabian atau kerasulan maka sesuatu dosa yang boleh terjadi ke atas manusia biasa lain boleh berlaku ke atas mereka kerana sifat maksum itu adalah kerana kenabian dan kerasulan[3].
2) Mereka juga mengatakan bahawa perjalanan dengan tujuan zina tidak haram kerana yang haram hanya perbuatan zina[4].
3) Mereka juga membolehkan cumbuan lelaki dengan perempuan ajnabiyyah[5].
4) Mereka juga membolehkan seseorang lelaki berjabat tangan dengan perempuan ajnabiyyah[6].
5) Mereka juga mendakwa bahawa semua manusia boleh berijtihad terutamanya selepas mereka dapat membaca kitab-kitab yang berbahasa Arab dan yang berkaitan syariat Islam[7].
Oleh itu, jauhilah Hizbut Tahrir kerana mereka mengancam akidah umat Islam! Sebarkan maklumat ini kepada orang lain! AWAS! Mereka sedang mencari pengaruh di kalangan masyarakat Islam di Malaysia terutama golongan siswazah dan profesional yang tidak kuat asas akidah Islam dan ilmu fardu ain bagi memudahkan lagi pergerakan mereka.
[Risalah ini telah siap disusun oleh Abu Nur al-Dununiyy al-Ash^ariyy pada 28 Jumadal-Awwal 1427 H dan diedarkan di sebahagian negeri Johor bersama dengan doa: “Ya Allah! Jadikanlah risalah kecil ini sebagai RIBUT PETIR yang melanda HIZBUT TAHRIR!”.]
________________________________
[1] Sila rujuk penulisan-penulisan mereka seperti berikut: (1) Al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 2, bahagian 3, hlm. 13, 15 dan 29. (2) Al-Khilafah, hlm. 3, 4 dan 9. (3) Al-Dawlah al-Islamiyyah, hlm. 179. (4) Mudhakkirah Hizb al-Tahrir ila al-Muslimin fi Lubnan, hlm. 4.
[2] Sila rujuk penulisan-penulisan mereka seperti berikut: (1) Al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 1, bahagian 1, hlm. 71, 72 dan 74. (2) Nizam al-Hukm fi al-Islam, hlm. 22.
[3] Sila rujuk penulisan pengasas dan ketua Hizbut Tahrir iaitu Taqiyyuddin al-Nabhani al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 1, bahagian 1, hlm. 120.
[4] Perkara ini telah ditulis dan disebarkan dalam kertas edaran mereka di Tripoli, Syam pada tahun 1969 dan masih disebut sehingga sekarang oleh penduduk Tripoli dan mendapat tentangan daripada kebanyakan penduduk.
[5] Sila rujuk edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 24 Rabi^ul-Awwal 1390, dan edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 21 Jamadil-Awwal 1400/ 7 April 1980.
[6] Sila rujuk edaran soal jawab terbitan Hizbut Tahrir pada 8 Muharram 1390, dan buku mereka al-Khilafah, hlm. 22 – 23, serta buku ketua mereka al-Shakhsiyyah al-Islamiyyah, juzuk 2, bahagian 3, hlm. 22 – 23, dan juzuk 3, hlm. 107 – 108.
[7] Sila rujuk kitab mereka al-Tafkir, hlm. 149.
___________________________________________________________
HIZBUT TAHRIR (HT) Merupakan satu angkatan @ ajaran baru yang bertopengkan politik islam tetapi pada hakikatnya TIDAK menerima pakai hukum islam antaranya isu bersalaman, bercium laki perempuan ajnabiyah bukan muhrim dan bukan suami isteri & yang berjalan menuju zina merupakan tidak haram bahkan harus lagi HALAL bagi Hizbut Tahrir.
HT sering menyebarkan ajaran mereka kepada persatuan2 islam dimalaysia termasuk JAKIM demi merialisasikan impian mereka iaitu kesemua manusia didunia ini WAJIB ikut dan sertai HT.Dengan bertopengkan penegakan sistem Khilafah Islamiyah HT turut bertindak kurang ajar dengan menghukum seluruh umat islam yang bersemangat wataniyah sebagai KAFIR halal darahnya dan juga menghukum KUFUR terhadap semua umat islam di Malaysia dan Indonesia yang beramal dengan demokrasi.
Selainya HT tidak mengutamakan ilmu agama HT turut menerapkan nilai2 penghinaan terhadap para nabi antaranya HT menyandarkan perbuatan syirik terhadap Nabi Ibrahim serta HT turut menghukum nabi Yusuf BERKEHENDAK DAN BERNIAT MELAKUKAN ZINA dengan ZULAIKAH.Dan..dan..dan banyak lagi beribu-ribu kesongsangan ajaran baru Hizbut Tahrir yang tidak sempat diutarakan kesemuanya disini…
Umat islam tidak habis lagi dengan ajaran Mujassimah Moden( yang mengatakan Allah Duduk & Membid’ah-bid’ahkan umat islam )kini umat islam terpaksa menghadapi dengan pelbagai ajaran baru yang bertopengkan islam atau politik islam pula.
Dibawah ini saya menyatakan beberapa kesongsangan dan Hubbut Takfir ( HT ) iaitu gemar&suka menkafirkan umat islam yang wujud dalam ajaran Hizbut Tahrir ( HT ) merujuk kepada kitab asal atau risalah asal puak ajaran baru Hizbut Tahrir yang dipetik dari laman web HT sendiri dan ini bukanlah satu fitnah dan tuan2 boleh rujuk sendiri dari website HT sendiri.
1- HIZBUT TAHRIR MENGKAFIRKAN UMAT ISLAM.
Hizbut Tahrir Semakin Kurang Ajar Terhadap Islam dan UmatnyaHizbut Tahrir ( HT ) merupakan satu angkatan perpaduan baru yang bertopengkan dengan nama politik islam.
Umat islam memang sedari bahawa Khalifah adalah perlu dan kerja kearah mewujudkan khalifah islam sebenar sememangnya diusahakankan oleh umat islam dan ulamanya dengan cara yang cukup rapi tanpa menghukum kafir terhadap umat islam lain tanpa hak.
HT Mengharamkan Patriotisme Bahkan Mengkafirkan Sesiapa sahaja yang menubuhkannya dan menganggotainya.Dalam kitab mereka ini
http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf
Pada mukasurat 3 jelas HT mengharamkan bahkan MENGKAFIRKAN sesiapa sahaja yang menubuhkan, menganggotai dan menyokong serta bersemangat Patriotisme.
Ini bererti HT telah menghukum KUFUR terhadap semua umat islam di Malaysia dan diluar Malaysia yang mencintai negara sendiri (berbatasan syariat), maka tiada yang muslim di dunia ini bagi HT kecuali puak mereka sahaja.Hari kemerdekaan merupakan hari kekufuran bagi semua umat islam ( inilah tanggapan HT berdasarkan dalam kitab mereka tersebut ).
Nampak gayanya berasa lega sungguh puak HT ini bila dah kafirkan umat islam.
2- HIZBUT TAHRIR MEWAJIBKAN KEATAS UMAT ISLAM MENGIKUT DAN MENGANGGOTAI MEREKA ( walaupun kekadang mereka menafikannya tetapi kitab mereka membuktikannnya).
Wahai umat islam…lihatlah cara pendekatan HT ini dan saya berharap anda jangan tertipu dengan HT yang memang kurang ajar..dahlah tidak berhukum dengan hukum islam bila HT menghalalkan ciuman diantara lelaki dan perempuan dan persalaman antara mereka dalam risalah edaran HT di Tripoly.
Lihat pada perenggan pertama pada mukasurat 6
http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf
Jelas! bahawa HT mewajibkan anda semua menganggotainya dan siapa yang tidak melakukan perkara yang wajib maka dia telah melanggar perintah ‘islam’ dan akan diazab dalam api neraka Allah.
3- HIZBUT TAHRIR MENGKAFIRKAN SESIAPA YANG BERAMAL,BERSETUJU DAN BERKAITAN DENGAN DEMOKRASI.
Lihat http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf mukasurat 17 jelas bahawa HT gemar menghukum umat islam sekarang ini adalah kafir yang islam hanya HT sebab itu HT mewajibkan ikut mereka..rujuk semula m/s 6
http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Hizb-ut-Tahrir.pdf.
4- HIZBUT TAHRIR MENGANGGAP bahawa NABI&RASUL TIDAK MAKSUM ( TIDAK TERPILIHARA DARI KEKUFURAN ).
Mungkin yang maksum disisi HT hanya Taqiyuddin Nabhani.
Ketahuilah bahawa disisi agama islam yang dipelopori oleh Ahli Sunnah Wal Jamaah berpegang bahawa para Nabi dan Rasul mereka adalah maksum( terpelihari) dari kekufuran,
dosa besar & dosar kecil yang buruk pada SEBELUM kenabian dan kerasulam mereka serta SESUDAH kenabian dan kerasulan mereka. Inilah aqidah islam.
Malangnya HT beranggapan bahawa kemaksuman Nabi & Rasul dari kekufuran dan dosa besar HANYALAH SELEPAS dilantik oleh Allah sebagai nabi atau rasul.
Ini bermakna HT mengharuskan kekufuran berlaku pada Nabi dan Rasul sebelum kenabian sedangkan Allah tidak akan mengutuskan manusia sekeji itu ( iaitu yang melakukan kekufuran).
Laman Hizbut Tahrir membuktikan perkara tersebut
:http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Shakhsiyah1.pdf
Lihat pada m/s 137 diakhir perenggan jelas HT mengatakan bahawa para Nabi dan Rasul tidak maksum dan harus melakukan seperti mana manusia lain melakukan ( dari perkara kufur,dosa besar dan selainnya).nak tanya pada HT..taqiyuddin nabhani yang menentang ikhwan muslimin tu maksum ke tak?.
5- HIZBUT TAHRIR MENYANDARKAN SIKAP SYIRIK TERHADAP NABI IBRAHIM.
Saudara seislam sekalian…tidak cukup HT menafikan kemaksuman Anbya’ dari kekufuran sebelum kenabian, kini HT sanggup menyandarkan sikap seakan syirik terhadap nabi Ibrahim.Ketahuilah bahawa Nabi Ibrahim tidak pernah bersikap seakan bulan itu tuhan!
Dan Nabi Ibrahim tidap pernah mengadap matahari seolah-olah bersetuju dengan cara pemikiran org musyrik! Tidak dan tidak pernah!Akan tetapi HT telah menyandarkan perkara yang jelek itu terhadap Nabi Ibrahim…subhanallah..Ini juga bukan satu fitnah terhadap HT tapi anda boleh rujuk pada website HT ( http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf )Pada risalah mereka SAUTUN NAHDHAH SN652406 mukasurat 2 & 3.
Tidak pernahkan HT memahami firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 67 Allah ta’ala menafikan nabi Ibrahim dari kalangan musyrikin!.
6- DALIL GANJIL HIZBUT TAHRIR MENGHALALKAN MAKAN KHINZIR DEMI UNTUK MENGELAK KEMUDARATAN.
Saya nasihatkan kepada HT agar terus mempelajari ilmu agama dari ahli ilmu agama dan bukannya dari Taqiyuddin Nabhani! Agar anda dapat meletakkan dalil syarak ditempatnya dan bukan pakai tibai saja!Pada website http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf& risalah Hizbut Tahrir SAUTUN NAHDHAH SN652406 di mukasurt 3,
Apabila HT menghalalkan makan khinzir untuk mengelak kemudaratan, HT telah mengunakan ayat yang dipesongkan terjemahannya dan tafsirannya.
Cuba lihat bahawa ayat 106 dalam surah An-Nahl cukup panjang, malangnya HT yang tiada amanah dengan ayat Alquran telah meringkaskanya mengikut hawa nafsu mereka.
Kerja meringkaskan ayat Al-quran (sehingga terkeluar dari maksudnya) tidak dilakukan melainkan hanyalah kerja org jahil!Ayat tersebut menyatakan mengenai hukum kekufuran dan org islam yang dipaksa untuk kufur tiada kaitan dengan halal makan khinzir!
Demikian terjemahan sebenar ayat tersebut :
“Sesiapa yang kufur kepada Allah sesudah dia beriman (maka baginya kemurkaan dan azab dari Allah), kecuali orang yang dipaksa (melakukan atau melafazkan kufur) sedang hatinya tenang tenteram dengan iman; akan tetapi sesiapa yang terbuka hatinya menerima kufur maka atas mereka tertimpa kemurkaan dari Allah dan mereka pula beroleh azab yang besar”.
Qias yang digunakan oleh HT sering menyimpang kerana kejahilan mereka!
Adakah HT mahukan sistem khilafah ala meringkaskan ayat-ayat alquran dan dipotong-potong serta memutarbelit ayat-ayat Allah?!!
7- HIZBUT TAHRIR MENYATAKAN NABI YUSUF BERMAKSUD MELAKUKAN ZINA.
Tabarakallah!…apa ini?!Subhanallah…Kejahilan mentafsir Alquran membuatkan HT menyandarkan terhadap nabi Yusuf sifat keinginan melakukan zina terhadap zulaikha.
Saya menyeru agar HT memerangi kejahilan dan pergi belajar balik cara tafsir Alquran sebenar kerana HT telah melakukan jutaan kesilapan dalam Alquran. Adakah kejahilan Alquran asas Hizbut Tahrir bagi menyokong sistem khilafah?!.
Dalam website HT http://www.mykhilafah.com/sautun_nahdhah/pdf/sn200615_istimewa_maulidur_rasul_1427_hijrah_mengapa_kita_perlukan_rasul_allah.pdf pada risalah mereka SAUTUN NAHDHAH SN652406 di mukasurt 4, HT telah menerangkan ayat Alquran dengan salah sehingga menyebabkan HT menyandarkan terhadap nabi Yusuf sifat hendak melakukan seks dengan wanita itu.
Tabarakallah allazi ‘assoma ambiyaahu.
8- HIZBUT TAHRIR MENGATAKAN BAHAWA AGAMA PARA NABI TERDAHULU BUKAN AGAMA ISLAM.
Dalam kitab HT berjudul Syakhsiyah Islamiah Juzuk Tiga Usul Fiqh di Mukasurat 406 & 407, http://www.hizb-ut-tahrir.org/PDF/AR/ar_books_pdf/Shakhsiyyah3.pdf
HT telah menafikan Islam sebagai agama para nabi-nabi terdahulu.Ketahuilah bahawa seluruh para Nabi beragama Islam berdalilkan banyak ayat dan bukti lain..antaranya firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 67.Firman Allah bermaksud :
“Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi dan bukanlah dia seorang pemeluk agama Kristian, tetapi dia seorang yang tetap di atas dasar Tauhid sebagai seorang MUSLIM (yang taat dan berserah bulat-bulat kepada Allah) dan dia pula bukanlah dari orang-orang musyrik”.
Cuma syariat iaitu hukum-hakam para rasul sahaja yang berbeza, manakala agama adalah sama iaitu agama Islam yang beriman dengan Allah sebagai Tuhan yang disembah.
Demikianlah beberapa cebis penerangan mengenai bahayanya ajaran Hizbut Tahrir.
Semoga Allah memelihara umat islam dari terpengaruh dengan ajaran Hizbut Tahrir. amin.

Sabtu, 16 April 2016

Dr Zakir Naik, Siapa dan Bagaimana Ajarannya?


Dr Zakir Naik, Siapa dan Bagaimana Ajarannya. Foto: cover buku "Zakir Naik, A Brief Profile" dari IRF.
Dr Zakir Naik, Siapa dan Bagaimana Ajarannya. Foto: cover buku “Zakir Naik, A Brief Profile” dari IRF.
Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan nama Zakir Naik lahir di India pada 18 Oktober 1965. Disebutkan dalam berbagai literatur, ia penah kuliah kedokteran di Mumbai, India. Para pengagumnya menyebut ia sebagai sosok “ulama” terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Bisa dikatakan Zakir Naik ini besar melalui Internet, seperti website dan video Youtube yang sengaja disebarluaskan di Indonesia.
Sebutan “ulama” yang disandang Zakir Naik tentu dipertanyakan. Karena darimana ia belajar ilmu agama Islam pun tidak jelas. Tidak pernah disebutkan siapa gurunya, sama seperti sosok Al Ustadz Ahmad Sukina, pemimpin Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Solo. Tidak akan anda temukan darimana ia belajar agama meski dalam website resminya seperti IRF. Tidak diketahui darimana ia belajar agama. Yang ada, klaim Zakir Naik yang menyebut dirinyya sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat.
Belum lagi bacaan Qurannya yang tidak beraturan. Siapa yang mengajarinya Al-Qur’an juga tidak jelas karena aksen Arab dan Qur’annya benar-benar sudah keluar dari makhraj, tidak bagus, dan tidak memenuhi kaidah ilmu Tajwid. Dimana dan dengan ulama siapa Zakir Naik belajar Tafsir, Hadits, Fiqih, Syariah, bahasa Arab, dan lain sebagainya juga tidak pernah diketahui. Tiba-tiba sosok ini muncul bak seorang ulama besar yang faham betul tentang Islam, memahami tafsir, memahami hadits, memahami syariat, dan lain sebagainya. (Download ebook PDF Dr Zakir Naik, A Brief Profile dari IRF.net)
Dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan bahwa dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia seringkali mengeluarkan “fatwa” perihal masalah agama Islam yang bukan bidangnya. Ia pun tidak ragu-ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab Fiqih dan Hadits. Dikatakan Zakir Naik bahwa para Imam Fiqih dan Hadits itu tidak memiliki informasi (ilmu) yang lengkap saat mereka (para Imam Fiqih dan Hadits) memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam. Bahkan Zakir Naik menyatakan bahwa menerima dan mengikuti para Imam tersebut sebagai guru dalam Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid. Innalillahi, orang yang tidak jelas darimana belajarnya seperti Zakir Naik, begitu mudahnya menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab.
Dikatakan Zakir Naik terpengaruh oleh Syaikh Ahmad Deedat rahimahullah saat ia belajar ilmu kedokteran. Syaikh Ahmad Deedat sendiri adalah seorang ulama sufi ahlussunnah wal jamaah dari Afrika Selatan (1918-2005) yang konsen di bidang perbandingan agama. Dari sini menunjukan bahwa Zakir Naik mulai membaca dan mengkaji buku-buku agama Islam saat ia berusia sekitar 22 tahun atau saat kuliah di Kedokteran sekitar tahun 1987. Hebatnya, hanya dalam waktu 3 tahun (1987-1990) setelah membaca buku pelajaran agama Islam secara otodidak, dan ini termasuk aktivitasnya sebagai mahasiswa kedokteran dengan kegiatannya yang padat seperti mempelajari buku-buku kedokteran, ujian, kepaniteraan klinik, dll, ia telah mempelajari segala sesuatu tentang Islam dan mendirikan Islamic Research Foundation (IRF) pada Februari 1991 dan mulai berdakwah secara penuh. Sungguh aneh bin ajaib, cukup berbekal belajar buku pelajaran agama Islam dalam 3 tahun sambil kuliah kedokteran yang begitu sibuknya, tiba-tiba keluar sebagai “ulama”, bahkan menyalahkan para ulama Imam ahlussunnah wal jamaah.
Lebih aneh lagi, dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan dirinya telah mulai berdakwah sebelum IRF didirikan. Hal ini menunjukan Zakir Naik mempunyai kemampuan luar biasa dalam menghafal. Membaca buku pelajaran Islam tidak untuk dipahami, tetapi hanya sekedar sebagai memori (dihafal). Semakin tajam memori seseorang maka umumnya semakin cerdas, layaknya sebuah kamus yang menyimpan banyak memori. Sama halnya dengan orang yang akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Dan dengan sedikit polesan kemahiran berorasi maka jadilah tampak perdebatan yang menghebohkan. Alhasil banyak penonton yang terpukau.
Meski begitu Zakir Naik sering mengaku sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. Benarkah? Tentu saja ini tidak benar. Bagaimana mungkin seorang murid menyebut gurunya sendiri secara tak langsung sebagai orang yang syirik dan kafir. Lihatlah bagaimana Zakir Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan perbuatan tersebut dengan Festival Hindu dan Kristen (festival orang-orang kafir). Maulid Nabi dikatakan Haram, dan lain sebagainya. Na’udzubillah. Padahal Syaikh Ahmad Deedat yang ia klaim sebagai gurunya adalah pecinta maulid Nabi.
Syaikh Ahmad Deedat berkata,
“Ada jutaan muslim termasuk saya, dan saya tidak keberatan merayakan hari-hari yang baik seperti yang anda katakan (peringatan maulid nabi). Saya katakan itu OK. Dan saya tidak akan bersama anda, saya tidak setuju dengan anda, saya tidak ingin anda untuk mengubah (pendapat) saya”.
Kenapa? Karena Zakir Naik adalah penganut ajaran Salafi (Wahabi), yang begitu mudah menuduh syirik, bid’ah, kafir kepada umat Islam yang berbeda dengannya. Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, Zakir Naik disebut sebagai dai Salafi (Wahabi) paling berpengaruh di India, bahkan dikatakan sebagai dai Salafi (Wahabi) paling terkemuka di dunia. Tidak hanya itu, dalam halaman Wikipedia dituliskan agama Zakir Naik adalah Salafi Islam, kemudian diganti menjadi Sunni Islam, dan sekarang menjadi Islam saja tanpa embel-embel. Meski dirinya hakikatnya seorang Salafi tapi tidak sedikit orang-orang Salafi yang menyebutkan Zakir Naik adalah sesat dan menyesatkan.
Sebagai penganut ajaran Salafi (meski dirinya menolak Salafi), Zakir Naik beraqidah mujassimah tidak diragukan lagi. Ia menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhlukNya yang merupakan bagian faham mujassimah. Dikatakan Zakir Naik bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki dua tangan, dua mata, wajah, kaki, tulang kering, dan memiliki tubuh yang besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala duduk di atas langit, di atas kursi yang besar menghadap ke ‘Arsy. Inilah aqidah di luar ahlussunnah wal jamaah yang banyak dianut kaum Salafi (Wahabi) yang membedakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Baca juga:
Kemudian seeorang bertanya, “Bagaimana tangan dan tubuh Allah?”. Zakir naik menjawab, “Kami tidak tahu, yang tahu hanya Allah”. Dan kalau kita cermati pandangan aqidah mujassimah yang dianut Salafi ini serupa dengan pemikiran Tuhannya Hindu, Dewa Wisnu. Bedanya tuhannya Hindu itu menikah dan ada model patung dewa Wisnu. Banyak sekali pemahaman dan ajaran Salafi Wahabi yang dianut Zakir Naik yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini.
Selain menganut aqidah salafi mujassimah, Zakir Naik juga acapkali menyebarkan pemahaman dan pemikiran ajaran Ahmadiyyah. Dalam berbagai pidato dan tulisan-tulisannya, Zakir Naik mengklaim bahwa kemunculan Nabi Muhammad Shollalohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah disebutkan dalam kitab suci agama Hindu. Pemikiran Zakir Naik tersebut ternyata bersumber dari buku “Mohammad (صلى الله عليه و آله وسلم) in world scriptures” karya Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani (1888-1977), seorang penyebaar dan penganut ajaran Ahmadiyyah Lahore India. Bahkan tulisan-tulisan Zakir Naik ini hampir sama persis dan banyak kemiripan dengan tulisan yang ada dalam buku Qadiyani itu. Anehnya, Zakir Naik tidak pernah menyebutkan sumber kutipan tulisannya itu. (Download ebook Hubungan Zakir Naik dengan Ajaran Ahmadiyah Qadiyani)
Ketika ditanya apakah kitab Wedha dan kitab suci umat Hindu lainnya adalah wahyu Allah, Zakir Naik menjawab,
“Tidak ada teks dalam Al Quran dan Hadits shahih yang menyebutkan nama bahwa wahyu itu dikirim ke India. Karena nama-nama Weda atau Hindu lainnya tidak ditemukan dalam Quran dan Hadits shahih, maka seseorang tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari wahyu Allah. Kitab-kitab tersebut mungkin saja wahyu dari Allah atau mungkin bukan wahyu dari Allah”.
Dari jawaban di atas, Zakir Naik sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia percaya kitab suci agama Hindu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (sama halnya dengan Alkitab Injil yang telah berubah), meskipun ia sendiri tidak ingin menyatakannya secara terbuka. Hal ini dipertegas dengan jawaban Zakir Naik yang tidak berani mengatakan kitab suci umat Hindu adalah bukan firman Allah Ta’ala, tetapi justru ia menjawab dengan plin-plan dengan mengatakan “mungkin wahyu Allah atau mungkin bukan”. Ini tidak lain karena ia terpengaruh pemikiran ajaran Ahmadiyyah Lahore dari Qadiyani.
Dan anehnya banyak orang-orang Islam yang sudah terpengaruh dengan pemikiran Ahmadiyyah yang dibawa oleh Zakir Naik ini, baik disadari maupun tidak disadari. Meskipun Zakir Naik sendiri tidak pernah berani mengatakan di depan publik bahwa itu hasil pemikiran Ahmadiyah (Qadiyani). Tapi fakta menunjukan pidato dan tulisannya mengambil dari tulisan Ahmadiyah.
Fakta-fakta di atas tentu sangat berbahaya, tetapi ada yang lebih berbahaya lagi ketika Zakir Naik sudah mempermainkan ayat Al Quran dan Hadits. Ayat Al Quran dan Hadits sering disalah tafsirkan. Menafsirkan Quran tanpa ilmu dan asal-asalan. Ini tentu sangat berbahaya.
Salah satu contohnya adalah bagaimana Zakir Naik menyamakan arti kata bahasa Arab dari Syifa dan Syafa’ah dalam Al Qur’an. Dua kata yang artinya berbeda tetapi dianggap sama oleh Zakir Naik. Ini kesalahan fatal. Akibatnya ia pun tergelincir dalam memahami Quran, tidak sesuai dengan pemahaman para ulama tafsir. Ini adalah bentuk kebohongan nyata yang disengaja oleh Zakir Naik dalam menipu umat Islam khususnya mereka yang awam. Sebuah fitnah keji yang mengatasnamakan Qur’an. Para ulama sudah memperingatkan Zakir Naik tetapi pemikirannya ini tetap ia sebarkan.
Masih banyak penyimpangan-penyimpangan Zakir Naik lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Yang jelas dan perlu ditekankan disini adalah kita harus berhati-hati dengan Zakir Naik. Banyak ulama-ulama lain yang mestinya kita ikuti, yang jelas sanad ilmunya, jelas siapa gurunya, jelas keilmuannya, yang bersamabung dengan Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, yang akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat.
Dikutip dan dialihbahasakan dari Correct Islamic Faith (Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah Ash-Shohihah) International Association pimpinan Syaikh Al-Habib Mir Asadullah Qadiri, Hyderabad, India.

Pemikiran dan Aqidah yang Dianutnya


ZAKIR NAIK BOLEHKAN UMAT ISLAM MENYEBUT ALLAH DENGAN PANGGILAN NAMA DEWA HINDU
Sang orator ulung Zakir Naik dalam tulisannya berjudul “Concept of God in Hinduism” menyatakan bahwa umat Islam diperbolehkan mengganti nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama dewa umat Hindu seperti Wisnu atau Brahma. Tulisan Zakir Naik tersebut masih dapat anda temukan salah satunya dalam halaman resmi website Islamic Research Foundation (IRF) miliknya atau dalam bukunya yang berjudul “Islam and Universal Brotherhood” hal. 33.
Berikut salah satu kutipannya yang diambil dari website irf.net miliknya:
…Among the various attributes of God, one of the beautiful attributes mentioned in the Rigveda Book II hymn 1 verse 3, is Brahma. Brahma means ‘The Creator’. Translated into Arabic it means Khaaliq. Muslims can have no objection if Almighty God is referred to as Khaaliq or ‘Creator’ or Brahma. However if it is said that Brahma is Almighty God who has four heads with each head having a crown, Muslims take strong exception to it….
…Another beautiful attribute of God mentioned in the Rigveda Book II hymn 1 verse 3 is Vishnu. Vishnu means ‘The Sustainer’. Translated into Arabic it means Rabb. Again, Muslims can have no objection if Almighty God is referred to as Rabb or ‘Sustainer’ or Vishnu. But the popular image of 9[Atharveda Samhita vol 2 William Dwight Whitney page 910], Vishnu among Hindus, is that of a God who has four arms, with one of the right arms holding the Chakra, i.e. a discus and one of the left arms holding a ‘conch shell’, or riding a bird or reclining on a snake couch. Muslims can never accept any image of God….
(Lihat: Concept of God in Hinduism by Dr. Zakir Naik in irf.net)
Yang artinya kurang lebihnya addalah:
…Diantara berbagai nama Allah, salah satu nama yang indah yang disebutkan dalam kitab Rgveda Buku II himne 1 ayat 3 adalah Brahma. Brahma berarti “Pencipta”. Dalam bahasa Arab disebut Khaliq. Umat Islam tidak keberatan (diperbolehkan) kalau Allah Subhanahu wa Ta’ala dipanggil dengan Khaliq atau Pencipta atau Brahma. Namun, jika dikatakan Brahma adalah Tuhan Yang Maha Kuasa yang memiliki empat kepala dengan masing-masing kepala memiliki mahkota, umat Islam sangat tidak setuju…
…Nama lain yang indah dari Allah yang disebutkan dalam kitab Rgveda Buku II himne 1 ayat 3 adalah Wisnu. Wisnu artinya “Pemelihara (alam semesta)”. Dalam bahasa Arab disebut Rabb. Sekali lagi, umat Islam tidak keberatan (diperbolehakn) jika Allah Subhanahu wa Ta’ala dipanggil sebagai Rabb atau Pemelihara (alam semesta) atau Wisnu. Tetapi penggambaran terkenal dalam Atharveda Samhita vol Halaman 2 William Dwight Whitney 910, Vishnu adalah Tuhan yang mempunyai 4 tangan, tiap tangan memegang cakra, tangan kirinya memegang rumah kerang, menaiki seekor burung garuda sambil bersandar pada gulungan ular. Umat muslim tidak pernah menerima penggambaraan Allah…
Begitulah pandangan Zakir Naik yang mengatakan kalau umat Islam tidak keberatan mengganti nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Brahma atau Wisnu. Coba kita kembalikan kepada umat Islam, maukah Anda  duhai Muslimin wal Muslimat memanggil “Ya Brahma”, “Ya Wisnu”? Dan maaf kalau ini terlalu vulgar, maukah Anda mengganti lafadz Bismillahirrahmanirrahim dengan “BismiBrahma” atau “BismiWisnu” Ar-Rahmani Ar-Rahim? Tentu saja tidak mau.
Oleh karena itulah para ulama dari Darul Ifta Darul Ulum Deobandi India mengeluarkan fatwa tegas menolak pemikiran Zakir Naik ini. Para ulama Darul Ulum melarang umat Islam memanggil nama Allah dengan kata-kata non-Arab tersebut sebagaimana diyakini Zakir Naik. Tidak boleh memanggil nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menggunakan nama-nama yang tidak khusus bagiNya. Bagaimana mungkin diperbolehkan untuk memanggil Allah dengan nama-nama seperti Wisnu dan Brahma yang mana itu adalah bagian tanda-tanda dari ajaran Hindu?
وَلِلّٰهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوْهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ – سورة الأعراف:١٨٠
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna (nama-nama yang agung yang sesuai dengan sifat-sifat Allah), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Quran Surat Al-A’raf:180)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama yang indah, nama-nama yang agund dan bagus. Maka sebutlah dan panggilah Allah dengan nama-nama tersebut, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik, Ya Quddus, Ya Salam, dan lain sebagainya. Bukan menyebut Allah dengan nama seperti Ya Brahma, Ya Wisnu, yang identik dengan ajaran Hindu.

ZAKIR NAIK DAN HUBUNGANNYA DENGAN AJARAN AHMADIYAH QADIYANI


Dalam tulisannya yang berjudul “Prophet Muhammad (pbuh) in Hindu scripture” dan juga pidato-pidatonya, Zakir Naik mengklaim bahwa kemunculan Nabi Muhammad Shollalohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah disebutkan dalam kitab suci agama Hindu. Salah satu tulisannya dapat ditemukan dalam halaman website resmi IRF miliknya.
Melalui tulisannya tersebut, Zakir Naik sebenarnya ingin mengupas beberapa nubuwah akan kemunculan Nabi Muhammad yang menurutnya disebutkan dalam kitab Hindu. Zakir Naik mengemukakan berbagai nubuwat dalam empat sub judul, yaitu:
  • I. Muhammad (pbuh) prophesised in Bhavishya Purana,
  • II. Prophet Muhammad (pbuh) Prophesised in Atharvaveda,
  • III. Muhammad (pbuh) prophesised in the Rigveda,
  • IV. Muhummad (pbuh) is also prophesised in the Samveda.
Pada sub judul pertama dikatakan ada 3 nubuwah dari kitab Bhavishya Purana. Diantaranya nubuwah pertamanya sebagaiman dikutip dari Zakir Naik adalah,
According to Bhavishya Purana in the Prati Sarag Parv III Khand 3 Adhay 3 Shloka 5 to 8. “A malecha (belonging to a foreign country and speaking a foreign language) spiritual teacher will appear with his companions. His name will be Mohammad. Raja (Bhoj) after giving this Maha Dev Arab (of angelic disposition) a bath in the Panchgavya and the Ganga water (i.e. purifying him of all sins) offered him the present of his sincere devotion and showing him all reverence said, “I make obeisance to thee. O ye! The pride of mankind, the dweller in Arabia, Ye have collected a great force to kill the Devil and you yourself have been protected from the malecha opponents.”
Ada apa dengan nubuwah pertama Zakir Naik di atas? Ternyata tulisan yang dikatakan oleh Zakir Naik sebagai nubuwah pertama di atas adalah tulisan yang hampir sama persis dengan nubuwah pertama yang dikarang oleh Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani (1888-1977) dalam bukunya yang berjudul “Mohammad in world scriptures”. Bedanya, Zakir Naik menuliskan ejaan malecha, sementara Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani menuliskannya dengan ejaan malechha dan dengan sedikit tambahan kata-kata yang lain.
Pertanyaannya sekarang, siapa Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani?
Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani adalah seorang cendekiawan gerakan Ahmadiyah Lahore yang berpusat di Lahore, ibukota Provinsi Punjab, Pakistan. Gelar Vidyarthi diperolehnya karena kemahirannya dalam memahami kitab Hindu Veda, dan gelar Qadiyani adalah berasal dari kata Qadian, sebuah kota kecil di negara bagian Punjab, India, tempat kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, pemimpin ajaran sempalan Ahmadiyah.
Pemikiran Zakir Naik dalam tulisannya “Prophet Muhammad (pbuh) in Hindu scripture” yang ia sebarluaskan di berbagai media ternyata adalah hasil pemikiran ajaran Ahmadiyah dari Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani dalam bukunya berjudul “Mohammad in world scriptures” atau “Mithaq-un-nabiyyin” dalam versi bahasa Urdu.
Pemikiran tersebut tidak hanya ditemukan dalam kaitannya terkait dengan nubuwah pertama di atas. Tapi kemiripan lain juga ditemukan dari tulisan Zakir Naik selanjutnya. Diantaranya, Zakir Naik menuliskan,
“The Egyptian Monarchs were called as Pharaoh and the Roman Kings were known as Caesar, similarly the Indian Rajas were given the title of Bhoj”.
Sementara dalam bukunya Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani ditulis,
“Just as the Egyptian monarchs were known as Pharaohs and the Roman kings were called Kaisers, similarly, the Indian rajas were given the epithet of Bhoj”.
Kemudian dalam komentar Zakir Naik terkait ritual mandi suci di sungai Gangga dikatakan,
“The Prophet did not physically take a bath in the Panchgavya and the water of Ganges. Since the water of Ganges is considered holy, taking bath in the Ganges is an idiom, which means washing away sins or immunity from all sorts of sins. Here the prophecy implies that Prophet Muhammad (pbuh) was sinless, i.e. Maasoom.”
Komentar yang mempunyai arti yang sama juga dituliskan oleh Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani,
“Another point which requires elucidation is the Prophet’s taking bath in ‘Panchgavya’ and the water of the Ganges. This did not, of course, actually happen as it was only a vision; so we give it the interpretation that the Prophet will be purged of and made immune from all sorts of sins.”
Dan masih banyak lagi persamaan dan kemiripan tulisan Zakir Naik dengan pentolah ajaran Ahmadiyah Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat tulisan Zahid Aziz Qadiyani (pengikut Ahmadiyah) yang berjudul “Comparison of work of Zakir Naik Salafi and Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani” dalam website ahmadiyya.org.
Kemudian kalau kita mau telusuri, buku karangan Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani yang tulisannya mirip dan bahkan dikatakan sama persis dengan tulisan Zakir Naik telah diterbitkan pada 1936 (versi Urdu) dan 1940 (versi English), yang berarti 25 tahun sebelum Zakir Naik dilahirkan karena Zakir Naik lahir pada 1965. Ini berarti Zakir Naik telah melakukan plagiat. Kenapa? karena ia tidak pernah menyebutkan darimana sumber tulisannya. Zakir Naik tidak pernah menyatakan bahwa itu hasil pemikiran seorang cendekia Ahmadiyah bernama Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani. Mungkinkah Zakir Naik tidak tahu atau tidak mau tahu? Atau mungkin karena ia takut dituduh sebagai penganut ajaran Ahmadiyah disebabkan telah menyebarkan paham dan ajaran penulis Ahmadiyah? Atau ada alasan lainnya? Jawabannya ada pada Zakir Naik sendiri.
Tindakan plagiarisme yang dilakukan oleh Zakir Naik membuat Ahmadiyya Anjuman Isha’at Islam Lahore (AAIIL), sebuah organisasi gerakan Ahmadiyah Lahore, pada 2009 melayangkan undangan kepada Zakir Naik untuk berdebat membuktikan kebenaran tulisannya (Lihat: Majalah The Islamic Sunrise terbitan AAIIL pada Agustus 2009 ). Tidak diketahui apakah Zakir Naik kemudian memenuhi tantangan AAIIL atau tidak, karena tidak tertulis dalam majalah tersebut. Tapi yang jelas, tulisan Zakir Naik yang kuat dugaan adalah hasil plagiat milik Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani masih terpampang di website miliknya di irf.net. Dan ia pun masih terus menyebarkan pemahaman dan pemikirannya itu dengan leluasa. Dan bahkan “menyihir” umat Islam yang mendengarnya.

Cover Majalah Ahmadiyah AAIIL yang mengungkap tindakan plagiarisme Zakir Naik terhadap tulisan hasil pemikiran cendekiawan Ahmadiyah.
Cover Majalah Ahmadiyah AAIIL yang mengungkap tindakan plagiarisme Zakir Naik terhadap tulisan hasil pemikiran cendekiawan Ahmadiyah. Foto: archive.org

ZAKIR NAIK PENGANUT AQIDAH MUJASSIMAH


Dalam sebuah program acara miliknya, Zakir Naik pernah ditanya tentang keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dimana Allah Ta’ala? Zakir Naik menjawab yang intinya bahwa dalam Al Quran disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di ‘Arsy, sementara Hadits mengatakan Allah ada di langit, Allah berada di atas Kursi. Silahkan simak video pernyataan Zakir Naik tersebut pada menit ke 1:55.
Keyakinan yang mengatakan Allah bersemayam di atas ‘Arsy, Allah ada di langit, atau Allah duduk di atas Kursi, atau Allah memiliki tangan, wajah, kaki, dan sebagainya merupakan keyakinan-keyakinan batil lagi sesat. Keyakinan tersebut adalah keyakinan aqidah di luar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Maha Suci Allah atas apa yang mereka sifatkan.
Sementara di dalam aqidah ahlussunnah wal jama’ah menyatakan bahwa,
الله موجود بلا مكان ولا جهة ولا كيف
“ALLAH ADA TANPA TEMPAT, TANPA ARAH, & TANPA DISIFATI OLEH SIFAT MAKHLUK”
Aqidah inilah aqidah yang lurus yang dianut para sahabat Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam, para Imam Madzahibil Arba’ah (Imam Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali), dan para ulama ahlussunnah wal jama’ah di dalam dalam menjelaskan kesucian Allah dari menyerupai makhluk-Nya dan di dalam menjelaskan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.
Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu ‘Anhu berkata:
كَانَ اللّٰهُ وَلاَ مَكَان وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَليْه كَانَ
“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).
Beliau juga berkata:
إِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ العَرْشَ إْظهَارًا لِقُدْرَتهِ وَلَمْ يَتّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).
Sementara itu Al-Imam al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit rahimahullah, salah seorang ulama salaf terkemuka, perintis madzhab Hanafi, berkata:
قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أَيْنَ اللّٰهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.
“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).
Juga berkata:
وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.
“Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” -sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an- dengan menyakini bahwa Allah tidak membutuhkan kepada ‘arsy tersebut dan tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara ‘arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika membutuhkan kepada duduk dan bertempat, lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya -termasuk ‘arsy- di manakah Dia? Allah Maha Suci dari itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syekh Mullah ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70.).
Dan Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i rahimahullah, perintis madzhab Syafi’i, dalam salah satu kitab karyanya, al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, menuliskan:
(فصل) وَاعْلَمُوْا أنّ اللهَ تَعَالَى لاَ مَكَانَ لَهُ، وَالدّلِيْلُ عَلَيْهِ هُوَ أنّ اللهَ تَعَالَى كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغَيُّرُ فِي ذَاتِهِِ وَلاَ التَّبَدُّلُ فِي صِفَاتِهِ، وَلأنّ مَنْ لَهُ مَكَانٌ فَلَهُ تَحْتٌ، وَمَنْ لَهُ تَحْتٌ يَكُوْنُ مُتَنَاهِي الذّاتِ مَحْدُوْدًا، وَالْمَحْدُوْدُ مَخْلُوْقٌ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا، ولِهذَا الْمَعْنَى اسْتَحَالَ عَليْه الزّوْجَةُ وَالوَلدُ، لأنّ ذلِك لاَ يَتِمّ إلاّ بالْمُبَاشَرَةِ والاتّصَالِ والانْفِصَال.
“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Argumentasi atas ini ialah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa tempat. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada Dzat-Nya maupun pad asifat-sifatNya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah. Dan bila demikian maka ia pasti memiliki bentuk tubuh dan batasan. Dan sesuatu yang memiliki batasan pasti sebagai makhluk, dan Allah maha suci dari pada itu semua. Karena itu mustahil pada haknya terdapat istri dan anak. Sebab hal semacam itu tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan terpisah. Allah mustahil pada-Nya sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya istilah suami, istri dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (Lihat al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Pada bagian lain dalam kitab yang sama dalam pembahasan firman Allah QS. Thaha: 5, al-Imam as-Syafi’i menuliskan sebagai berikut:
فَإنْ قِيْل: أليْسَ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى (الرّحْمنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى)، يُقَال: إنّ هذِهِ الآيَة مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ، وَالّذِيْ نَخْتَارُ مِنَ الْجَوَابِ عَنْهَا وَعَنْ أمْثَالِهَا لِمَنْ لاَ يُرِيْدُ التّبَحُّر فِي العِلْمِ أنْ يُمِرَّ بِهَا كَمَا جَاءَتْ وَلاَ يَبْحَثُ عَنْهَا وَلاَ يَتَكَلّمُ فيْهَا لأنّهُ لاَ يَأمَنُ مِنَ الوُقُوْعِ فِي وَرَطَةِ التّشْبِيْهِ إذَا لَمْ يَكُنْ رَاسِخًا فِي العِلْمِ، وَيَجِبُ أنْ يَعْتَقِدَ فِي صِفَاتِ البَارِي تَعَالَى مَاذَكَرْنَاهُ، وَأنّهُ لاَ يَحْويْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِي عَليْهِ زَمَانٌ، مُنَزَّهٌ عَنِ الحُدُوْدِ وَالنّهَايَاتِ، مُسْتَغْنٍ عَنِ الْمَكَانِ وَالْجِهَاتِ، وَيَتَخَلَّصُ مِن َالمَهَالِكِ وَالشُّبُهَاتِ.
“Jika dikatakan bukankah Allah telah berfirman: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”? Jawab: Ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Sikap yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya ialah bahwa bagi seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang ini agar supaya mngimaninya dan tidak secara mendetail membahasnya atau membicarakannya. Sebab seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam hal ini ia tidak akan aman, ia akan jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang semacam ini, juga seluruh orang Islam, adalah meyakini bahwa Allah -seperti yang telah kita sebutkan di atas-, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Dia maha suci dari segala batasan atau bentuk dan segala penghabisan. Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah. Dengan demikian orang ini menjadi selamat danri kehancuran dan kesesatan” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Serta Al-Imam al-Mujtahid Abu ‘Abdillah Ahmad ibn Hanbal rahimahullah, perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid. Beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah. Bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzih. Dalam pada ini as-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami menuliskan:
وَمَا اشْتُهِرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إلَى هذَا الإمَامِ الأعْظَمِ الْمُجْتَهِدِ مِنْ أنّهُ قَائِلٌ بِشَىءٍ مِنَ الْجِهَةِ أوْ نَحْوِهَا فَكَذِبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِرَاءٌ عَلَيْهِ.
“Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, h. 144).
Baca juga:
Ketahuilah duhai saudaraku, Allah adalah Dzat yang keberadaan-Nya tidak harus terikat berada di tempat mana, termasuk tidak berada di langit maupun di surga. Karena Allah itu bukan makhluk yang membutuhkan tempat. Allah adalah Dzat yang berdiri sendiri, dan tempat itu adalah makhluk. Sedangkan langit juga adalah makhluk, dan tempat yang berada di bawah juga di atas langit adalah makhluk. Semua makhluk, termasuk langit, dan tempat yang berada di atas maupun di bawah langit itu adalah ciptaan Allah, sedangkan sebelum Allah menciptakan makhluk, Allah tidak membutuhkan apapun terhadap makhluk. Termasuk tidak butuh makhluk yang bernama tempat.
Artinya Allah tidak membutuhkan tempat untuk keberadaan-Nya, karena Allah itu bukan suatu materi yang membutuhkan tempat. Allah adalah Dzat yang Maha Suci dari membutuhkan tempat. Keberadaan Allah itu, tidak sama dengan keberadaan makhluk. Karena keberadaan makhluk itu selalu membutuhkan tempat, dan Allah itu sangat berbeda dan tidak sama dengan makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ – سورة الشورى:١١
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat” (Quran Surat Asy-Syura: 11)
Lafadz innallah ma`ana, itu berarti Sungguh Allah menyertai kita, artinya kekuasaan dan ilmunya Allah meliputi seluruh alam, sehingga di manapun kita berada, maka Allah selalu mengetahui perilaku kita.
Innahu fis saama (Sesungguhnya Dia ada di langit), artinya kekuasaan Allah itu meliputi langit. Wa innahu fil ardli (dan sesungguhnya Dia ada di bumi), artinya kekuasaan Allah itu meliputi bumi.
Fainamaa tuwallu fatsamma wajhullah (kemana saja engkau menghadap/ ke langit, ke bumi, ke segala penjuru, maka di sanalah Allah berada, alias kekuasaan dan ilmu-Nya berada di mana-mana), jelas-jelas ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak menetap di langit seperti pemahaman kaum Wahhabi (Salafi).
Jadi, menurut Ahlus sunnah wal jamaah Allah itu adalah Dzat yang tidak membutuhkan tempat dan kekuasaan serta ilmu-Nya meliputi segala sesuatu dan di mana-mana. Wallohu A’lam.



Senin, 11 April 2016

WASPADAI TAHQIQ & TAHRIF TAFSIR JALALAIN


tafsir-jalalain
Image by: toko.nu.or.id
Saya punya kitab Tafsir Jalalain terbitan Beirut, Libanon. Saya beli di Kaliwungu dulu pada tahun 2011. Salah satu kitab yang menjadi rujukan penting Aswaja. Karangan dua imam; Jalaluddin Al Mahalli dan disempurnakan oleh Jalaluddin As Suyuthi, karenanya disebut tafsir Jalalain, Tafsir –karangannya– dua imam bergelar Jalaluddin.

Namun, pada catatan kaki [foot note] nya ada di antara nya yang menyebutkan tentang pembagian tauhid menjadi tiga, yakni ulühiyyah, rubübiyyah dan asmä was sifät. Tri tauhid ciri khas ajaran Wahh*bi. Bahkan dikatakan mereka, bahwa seluruh nabi dan Rosül membawa ajaran ini [?].
Tahqiq Tafsir Jalalain
Dengan ajaran ini, mereka mengatakan bahwa Firaun, Abu Lahab itu beriman karena masih mengakui ada nya Tuhan [rubübiyyah].
Dan dengan ajaran ini pula kaum Wahhä*bi mengkafirkan kaum muslimin yang ziarah, Tawassul, tahlil dsb. Karena menurut mereka yang melakukan tawassul itu belum ber tauhid uluhiyyah. Ber tuhan tapi menyekutukan Nya. Sehingga kaum muslimin yang bertawassul menurut mereka bukan orang Isläm alias kafir. Murtad!! Dalam pandangan mereka, yang tidak ber tauhid uluhiyyah menurut mereka layak dibunuh.
Paham ini lah sumber terorisme, radikalisme. Sehingga bom bunuh diri, teror, akan selalu ada di negeri ini kalau ajaran ini tidak kita babat habis sampai ke akar-akar nya.
Padahal menurut Aswaja antara ulühiyyah dan rubübiyyah adalah satu paket, tidak boleh dipisahkan antara keduanya.
Kitab-kitab ulama saja sudah dikontaminasi oleh racun.
[Perhatikan foot note yang dilingkari warna merah]

DEBAT TEOLOGI KH. WAHAB CHASBULLAH DENGAN GUBERNUR HINDIA BELANDA


KH A Wahab Chasbullah
Dalam suatu kesempatan diplomasi antara Van der Plas (Gubernur Hindia Belanda untuk wilayah Jawa Timur sebelum Jepang mengalahkan Belanda tahun 1942) dengan KH A Wahab Chasbullah, diceritakan sebelum masuk ke pembicaraan inti, Van der Plas terlebih dahulu hendak menguji kecakapan Kiai Wahab Chasbullah dalam bidang teologi.

Ia mengajukan satu pertanyaan dan lewat pertanyaan ini ia menduga Kiai Wahab akan terperangkap pada pertanyaan pembuka tersebut.
“Kiai, menurut Kiai lebih enak dan nyaman mana antara bernaung di bawah pohon hidup dengan bernaung di bawah pohon yang mati,” tanya Van der Plas.
Demi mendengar pertanyaan di atas, Kiai Wabab langsung paham, bahwa yang dimaksud dengan “pohon mati” dan “pohon hidup” dalam kalimat pertanyaan tersebut bukanlah arti harfiah atau makna hakiki yang dikehendaki Van der Plas, melainkan arti majazi, ada makna tersirat dalam kalimat tersebut yang sengaja disajikan secara implisit untuk menjebaknya di awal pembicaraan.
Kiai Wahab Chasbullah sebagai Kiai yang sekian lama nyantri di banyak pesantren termasuk berguru ilmu alat kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, pastilah beliau telah matang dalam menguasai ilmu mantiq (logika Aristoteles) dan balaghoh (susastra arab) sehingga tidak sulit bagi Kiai Wahab memahami esensi yang terkandung di balik kalimat pertanyaan tersebut.
Kiai Wahab dengan cepat mampu menafsirkan bahwa “pohon hidup” yang dikehendaki Van der Plas ialah Nabi Isa yang masih hidup sampai kini di langit. Hal ini sebagai representasi agama Kristen agamanaya pemerintah Hindia Belanda, dan “pohon mati” diinterpretasikan dengan Nabi Muhammad yang sudah wafat sebagai representasi agama Islam, agamanya mayoritas orang pribumi Nusantara.
“Saya lebih memilih beteteduh di pohon mati,” jawab Kiai Wahab mantap.
Mendengar jawaban Kiai Wahab, Van der Plas kaget, tak mengira sebelumnya bila Kiai Wahab akan menjawab demikian.
“Bagaimana bisa Kiai memilih berteduh di bawah pohon mati, apa argumentasinya?”
“Sejam saja saya berada di bawah pohon hidup di waktu malam sudah begitu tersiksa, ada gigitan nyamuk, hawa dingin, suasana senyap, semua itu membuat saya tidak tahan. Tapi tiap malam saya berteduh di pohon mati justru begitu nikmat dan nyamannya. Lihat dalam gedung ini, itu reng-reng di atas, balok-balok, bukankah itu semua pohon mati,” jawab Kiai Wahab begitu taktisnya.
Fragmen cerita perdebatan di atas beberapa kali penulis dengar dari cerita almagfurlah KH Abdul Aziz Mansyur, Pengasuh Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang dan Pimpinan Badan Pembina dan Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo (BPK P2L) dalam beberapa kesempatan ceramahnya.
Meskipun belum ditemukan dalam literatur tertentu atau buku sejarah, tapi setidaknya fragmen seperti ini dapat kita golongkan sebagai sejarah lisan munurut Kuntowijoyo. Pasti almarhum KH Abdul Aziz Mansur yang wafat pada akhir tahun lalu punya referensi. Setidaknya pernah mendapat tuturan cerita di atas dari orang tua terdahulu yang menjumpai langsung zaman kolonialisme Belanda. (M Haromain).
Source: nu.or.id